Wabah Virus Corona (COVID-19) Tidak Mengganggu Budidaya Udang Indonesia

Jala | Wildan Gayuh Zulfikar

13 February 2020

Virus corona atau yang saat ini bernama coronavirus disease 19 (COVID-19) hingga hari ini (13/2) telah menyebabkan 1.357 korban jiwa dari total yang terinfeksi 60.017 serta 5.622 diantaranya berhasil disembuhkan. Wabah virus ini berawal dari kota Wuhan provinsi Hubei, Tiongkok dan menyebar ke beberapa negara. Indonesia sejauh ini aman dari infeksi virus ini meskipun beberapa kali diberitakan terdapat dugaan (suspect) penderita tetapi kemudian dinyatakan negatif.

Tidak dapat dipungkiri Tiongkok adalah negara penyerap berbagai komoditas seafood terbesar, banyak negara yang mulai terdampak seperti Indonesia, Vietnam, India, Ecuador, dan Australia. Tiongkok sementara waktu menghentikan perdagangan hewan hidup atas kejadian wabah virus corona. Banyak pasar basah (wet market) ditutup untuk mengantisipasi persebaran virus. Warga disarankan untuk tinggal di rumah dan meminimalisir aktivitas luar ruangan, termasuk banyak restoran juga tutup. Sehingga permintaan akan seafood menurun.

Penurunan permintaan seafood menyebabkan importir di Tiongkok membatalkan pesanannya. Pembatalan dianggap lebih baik dibanding tidak ada yang membelinya. Beberapa komoditas seafood yang terkena dampak yaitu ikan salmon dari Norwegia, ikan pangasius dari Ekuador, lobster batu dari Australia, serta udang dari Vietnam dan India. Frozen seafood akan meningkat dibandingkan hewan hidup yang akan turun, hal ini kemungkinan akan terjadi 3 sampai 5 bulan kedepan. Ketatnya pelabuhan Tiongkok dalam menyeleksi produk yang masuk ke negaranya menjadi alasan pengiriman produk akuakultur menjadi terhambat. Indonesia sendiri saat ini juga menghetikan sementara impor hewan hidup dari Tiongkok untuk mencegah persebaran virus masuk ke Indonesia.

Di Vietnam, importir Tiongkok mengabarkan bahwa ekspor udang dari Vietnam untuk dihentikan atau ditunda pengirimannya. Tidak berbeda terjadi di India, otoritas perikanan India menyarankan agar petambak udang menunda panen atau jika akan melakukan panen dilakukan sesegera mungkin untuk mengantisipasi penurunan harga. Vietnam dan India memang dua Negara penyumbang impor udang terbesar bagi Tiongkok. Hal ini menyebabkan eksportir mulai melirik pasar lain sementara waktu ini, yaitu Amerika Serikat atau Uni Eropa. Amerika Serikat adalah destinasi utama ekspor udang Indonesia, hal ini tentu bisa menjadi 'ancaman' bagi laju ekspor udang Indonesia. Spekulasi terburuk yang terjadi adalah perang harga antar eksportir.

Udang yang tertolak ekspor ke Tiongkok mungkin justru akan membanjiri pasar lokal, dan dampak yang dikhawatirkan adalah turunnya harga seafood termasuk udang. Isu di kalangan petambak udang di Indonesia juga mulai bermunculan, salah satunya turunnya harga udang akibat wabah virus corona. Beberapa pihak membantah bahwa penurunan harga udang karena dipengaruhi wabah virus corona. Berdasarkan data harga udang yang terkumpul di Jala, kecenderungan penurunan harga udang ini sebenarnya mirip yang dialami pada tahun 2019. Memasuki bulan Februari menuju bulan Maret, harga udang perlahan turun bahkan kecenderungan penurunan ini terjadi hingga bulan Mei. Lihat Kabar Udang sebelumnya: Trend Harga Udang 2019, Bagaimana 2020?

Saat ini memang terjadi penurunan permintaan seafood, tetapi ketika wabah virus ini teratasi maka ada kemungkinan permintaan akan melonjak dan harga yang sesuai. Hasil perikanan sebagai sumber protein kemungkinan dapat meningkat permintaannya seiring dengan kebutuhan pemulihan kesehatan. 

 

Referensi:
Global Times. 2020. Coronavirus outbreak hits global seafood market as demand falls.
Seafood Source. 2020. Coronavirus concern has Indonesia restricting imports of live fish from china
VN Express. 2020. Coronavirus halts shrimp exports to China.
Wikipedia. 2020. 2019-20 Wuhan coronavirus outbreak.