Vibrio Penyebab Penyakit Udang

Jala | Wildan Gayuh Zulfikar

21 August 2020

Udang Vannamei atau biasa disebut dengan udang putih, pada awalnya dianggap tahan terhadap serangan penyakit. Namun dalam perkembangannya, jenis udang ini ternyata dapat terserang berbagai jenis penyakit salah satunya disebabkan oleh bakteri. Bakteri yang paling sering menyerang udang jenis ini adalah dari marga Vibrio (Vibrio spp.), diantaranya yaitu Vibrio harveyi, Vibrio vulnificus, Vibrio anguillarum, Vibrio alginolyticus, Vibrio parahaemolyticus, dan Vibrio fluvialis. Hal ini juga banyak dikenal dengan istilah vibriosis.

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Vibrio diantaranya White Feces Diseases (WFD) dan Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND), tepatnya diindikasikan oleh bakteri Vibrio parahaemolyticus. WFD memiliki gejala ditandai dengan kotoran atau berak putih dari udang yang mengambang di tambak. Kotoran ini adalah kumpulan jaringan pencernaan udang yang rusak, meluruh, kemudian membentuk agregat yang menyatu dengan kotoran. Agregat ini menyerupai gregarin, sehingga, diagnosa penyebab penyakit ini awalnya disebabkan oleh gregarin. Tetapi setelah diteliti lebih lanjut, ternyata ada asosiasi kuat dengan keberadaan bakteri Vibrio.Contoh udang yang terjangkit AHPND

Ada sebuah indikasi lain bahwa WFD juga distimulasi oleh blooming BGA. Salah satu racun yang dihasilkan BGA bernama hepatotoksin turut menyebabkan rusaknya hepatopankreas dari udang sehingga berak udang berwarna putih. Selain itu, udang yang stres lebih mudah terkena penyakit. Stres dapat berasal dari kualitas air yang menurun. Kualitas air membutuhkan perhatian besar agar tidak terjadi blooming BGA dan mengganggu kenyamanan udang untuk tumbuh sehat.

Sedangkan ciri-ciri udang yang terkena AHPND hepatopankreas mengalami nekrosis, yaitu mengerut dan ususnya kosong. AHPND pada kondisi yang parah menyebabkan kematian di awal budidaya yakni sekitar hari ke-35-45 bahkan yang kini terjadi sebelum masa budidaya mencapai 30 hari dengan tingkat kematian 40-100% dalam 4 hari. Istilah EMS bukanlah penyakit tetapi hanya bentuk teknis dari AHPND, dan penyebab terkuatnya adalah Vibrio parahaemolyticus (Zorriehzahra and Banaederakhshan 2015). Udang yang terkena AHPND pada taraf yang parah akan mengalami kematian dini pada awal masa budidaya udang yaitu 10-30 hari pasca tebar dengan tingkat kematian hingga 100%. Peristiwa kematian akibat EMS terjadi saat temperatur lingkungan sedang tinggi.

Early Mortality Syndrome (EMS) menjadi ketakutan petambak udang di seluruh dunia. Sindrom ini ditunjukan dengan kematian dini udang, bahkan sebelum DOC atau 30 hari setelah tebar benih udang. Persebaran dimulai dari Tiongkok pada tahun 2009 dan merambah ke berbagai daerah di Asia. Namun, penyebab kematian secara mendadak masih diteliti.

Cara diagnosa terjadinya penyakit ini selain adanya kotoran putih yaitu pankreas mengecil, usus kosong, nafsu makan menurun, dan pertumbuhan menurun. Konfirmasi kehadiran penyakit ini adalah dengan membawa sampel udang dan sedimen untuk dilakukan uji di laboratorium. Cara pencegahan yang dapat dilakukan dengan menjaga stabilitas kualitas air, menerapkan sanitasi yang baik, manajemen induk dan benur yang berkualitas, dan kontrol pakan yang baik.