Udang Jerbung: Alternatif Budidaya, Awalnya Dianggap Hama

Jala

| Wildan Gayuh Zulfikar

15 November 2019

Sempat hebohnya udang jerbung (Fenneropenaeus merguiensis) yang diharapkan menjadi harapan baru budidaya udang di Indonesia, Tim Jala Tech berkesempatan berkunjung ke BBPBAP Jepara (7/11) berdiskusi tentang pengembangan yang dilakukan oleh BBPBAP Jepara mengenai udang jerbung ini. Selain berdiskusi, tim Jala Tech juga diberikan kesempatan untuk berkunjung ke kolam budidaya ditemani langsung oleh petugas yang mengawal pengembangan budidaya udang jerbung yaitu Bapak Bayu.

Tim Jala Tech berkunjung ke tambak udang jerbung
Tim Jala Tech dan Pak Bayu (kaos abu-abu)

Pada awalnya udang jerbung dianggap hama karena memakan pakan mendahului yang semestinya dimakan udang windu (pada budidaya sistem tradisional), tetapi justru udang jerbung tumbuh lebih cepat. Hal inilah yang menarik perhatian bagi BBPBAP Jepara untuk mengembangkan sebagai udang budidaya. Selain itu, pengembangan udang ini untuk memutus ketergantungan induk udang (terutama vaname) yang berasal dari luar negeri. 

Riset pengembangan udang jerbung sudah dilakukan sejak tahun 2017. Memasuki tahun ketiga riset, BBPBAP Jepara mulai fokus pada memperbaiki laju pertumbuhan. Riset pengembangan tahap ini harus lebih bersabar karena faktor genetik sangat mempengaruhi, sekitar 60% pola pertumbuhan udang dipengaruhi oleh faktor genetik udang. 15% diantaranya berasal dari pakan, 15% tergantung kualitas lingkungan, dan sisanya (10%) tergantung pada manajemennya. Sejauh ini sudah dicoba beberapa densitas tebaran misalnya 80, 100, hingga 130 ekor/m2. Percobaan budidaya udang jerbung di kolam kompleks BBPBAP Jepara namun hasil masih harus terus ditingkatkan. Nilai survival rate (SR) cukup memuaskan yaitu mencapai 80% tetapi nilai FCR masih belum ideal dengan masa budidaya hingga 3 bulan. Pertumbuhan udang terbilang cukup lambat, sehingga nilai FCR masih membengkak.

Riset setidaknya telah berhasil menghasilkan benur dalam jumlah yang cukup banyak. Melalui program kemitraan, petambak dapat mengajukan proposal untuk turut serta dalam mencoba membudidayakan udang jerbung. BBPBAP Jepara pernah memberikan bantuan 2 juta benur ke petambak di daerah Purworejo. Saat ini BBPBAP Jepara juga telah memberikan bantuan ke petambak mitra di daerah Demak disertai pendampingan rutin. Pada masa budidaya 2 bulan, udang sudah mencapai size 100 tetapi dengan densitas tebaran rendah dan dibudidayakan pada sistem sederhana/tradisional. Kedepan akan terus dicoba di daerah tersebut dan dengan metode yang terus dimodifikasi.

Kenampakan udang jerbung
Kenampakan udang jerbung

Dalam hal ketahanan terhadap penyakit, BBPBAP Jepara belum bisa menyampaikan hasil risetnya secara detail. Selama dalam tahap riset, udang jerbung belum pernah terserang penyakit. BBPBAP Jepara secara rutin melalukan uji penyakit (WSSV, IMNV, IHHNV, WFD) dan hasil selalu negatif.

Permasalahan utama yang dihadapi saat ini adalah mempercepat pertumbuhan, dengan salah satunya mempercepat molting. Udang memakan pakan yang diberikan, tetapi laju pertumbuhan lambat ditandai dengan frekuensi molting yang kurang. Saat ini udang jerbung baru siap untuk dibudidayakan dengan sistem sederhana. Manfaat dengan diterapkan sistem sederhana ini juga sebagai sarana uji kesesuaian lokasi dan terhadap lingkungan. Budidaya dengan sistem sederhana menggunakan densitas tebar udang yang rendah (3-5 ekor/m2) atau dibudidayakan bersamaan dengan jenis komoditas perikanan lain (polikultur).

Udang ini sudah umum ada di pasaran, sehingga sudah punya pasar sendiri. Harga jual juga terbilang cukup tinggi dibandingkan dengan udang vaname. Harapan terdekat udang ini menjadi alternatif selain udang vaname bagi petambak tradisional. Dengan membudidayakan udang ini juga berarti memberdayakan udang lokal. Alternatif yang dimaksud, udang ini dapat berkontrbusi dalam meningkatkan kesejahteraan petambak kecil atau petambak tradisional sehingga akhirnya mendukung ketahanan pangan Indonesia.