Solusi Efisiensi Pakan

Jala

| Wildan Gayuh Zulfikar

12 March 2020

Pada tambak udang sistem semi intensif, intensif, atau supra intensif pertumbuhan udang bergantung pada pakan yang diberikan untuk mencapai bobot target. Akhirnya pakan menjadi komponen terbesar dalam biaya produksi budidaya udang, yaitu hingga 60%. Udang diberi pakan 2 hingga 5 kali dalam sehari. Sering kali petambak membutuhkan tenaga khusus untuk pemberian pakan ini, terutama tambak dengan jumlah kolam yang banyak. Masalah lain yang seringkali ditemui adalah manajemen pakan kurang optimal dan kurang efisien.

Automatic feeder atau autofeeder awalnya hadir sebagai salah satu solusi untuk mengatasi mahalnya atau keterbatasan pekerja dan juga dapat meningkatkan efisiensi pakan. Autofeeder memungkinkan pemberian pakan secara otomatis dengan mengatur jumlah pakan yang diberikan dan jarak serta frekuensi pakan yang dapat diatur dengan akurat. Autofeeder prinsipnya meratakan waktu makan dengan meningkatkan frekuensi pemberian pakan menjadi selama 24 jam. 

Udang budidaya telah beradaptasi makan yang terus menerus, artinya kebiasaan alami udang aktif saat malam bergeser menjadi terlatih makan kapan saja. Udang akan mengumpulkan makanannya di capitnya kemudian memakannya perlahan. Udang akan menyelesaikan proses makannya termasuk pencernaannya selama 1 jam. Udang akan makan bergantian, jadi tidak peru khawatir udang akan berebut pakan karena autofeeder memang melontarkan pakan sedikit demi sedikit.

Apa saja keuntungan menggunakan autofeeder?

  • Meningkatkan efisiensi pakan
  • Meningkatkan laju pertumbuhan
  • Menurunkan biaya produksi
  • Kualitas air lebih stabil

Teknik pemberian pakan dengan autofeeder mampu menyediakan pakan pada tiap saat sesering mungkin, tergantung pengaturan jumlah dan frekuensi pemberian pakan. Efisiensi pakan menjadi lebih baik karena pakan tidak terbuang dan pakan yang dikonsumsi udang dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk pertumbuhannya. Oleh karena itu, keuntungan dari segi finansial akan didapatkan dari peningkatan efisiensi pakan, artinya biaya pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan udang menjadi lebih sedikit. Disamping itu ukuran udang bisa lebih seragam sehingga kualitas udang juga lebih baik.

Autofeeder menurunkan potensi fluktuasi DO, ammonia, dan nitrit. Hal tersebut merupakan efek dari efisiensi pakan, pakan akan segera dimakan udang tanpa ada yang larut. Kelebihan pakan dan pakan yang larut akan menurunkan kualitas air terutama pada tiga parameter tersebut.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Ullman et al. (2019) membuktikan bahwa penggunaan autofeeder dapat meningkatkan pertumbuhan udang dan menurunkan FCR dibandingkan dengan pemberian pakan dengan teknik manual. Beberapa hal harus diperhatikan pada penggunaan autofeeder, yaitu tipe pakan, ukuran pakan, bentuk pakan, kecepatan pengeluaran, jangkauan lemparan, dan kelembapan pakan.

Hasil optimal dari penggunaan autofeeder didukung dengan kualitas pakan yang baik. Salah satunya melihat homogenitas pakan, yaitu panjang dan diameter pelet yang seragam. Pakan yang baik tidak mudah rusak dan menghasilkan remahan pakan yang dapat menutup lubang autofeeder sehingga mempengaruhi lemparan. Selain itu dihindari menambahkan suplemen pakan yang berbentuk cair karena dapat menyebabkan pakan tidak dapat terlempar dengan baik atau bahkan macet di lubang pelontar.

Ukuran pelet yang lebih besar akan menghasilkan lemparan yang lebih baik. Autofeeder digunakan saat pakan memasuki fase pelet, yaitu umur 21 hari. Jangkauan lemparan pakan dari autofeeder dipengaruhi juga oleh tinggi motor autofeeder terhadap permukaan air. Normalnya 50-150 cm dari permukaan air untuk menghasilkan radius lemparan pakan yang ideal.

Jumlah autofeeder yang digunakan disesuaikan luas kolam. Pada tambak intensif dengan ukuran kolam 2000-5000 m2 biasanya cukup dengan satu autofeeder. Pada kolam yang lebih besar dan membutuhkan autofeeder lebih dari satu maka dipastikan area lemparan tidak beririsan satu dengan yang lainnya. Penempatan autofeeder sebaiknya pada area dengan kondisi kualitas air yang baik, misalnya area yang dilewati aliran arus dari kincir tetapi tidak tepat di dekat kincir karena dapat menyebabkan pakan hanyut tanpa sempat dimakan oleh udang. Autofeeder dipasang pada pelampung atau dibangun pada jembatan anco. Penempatan ini harus dipastikan lemparan pakan nantinya jatuh di area kolam.

Anco ditempatkan sebagai kontrol nafsu makan. Adapun jarak penempatan dan waktu pengecekan anco bervariatif dan cenderung tergantung pengalaman dari penggunanya. Beberapa petambak menyarankan 2,5-5 meter dari autofeeder. Pengecekan dilakukan 3-4 menit setelah autofeeder melemparkan pakannya.

Autofeeder bertujuan untuk mengurangi kesalahan yang mungkin timbul akibat pekerjaan manusia. Ada kalanya pekerja tambak tergesa-gesa dalam memberi pakan sehingga pakan tidak diberikan secara merata atau jumlah yang diberikan terlalu sedikit sehingga sebagian udang tidak mendapat makanan. Atau pekerja tidak menimbang pakan dengan tepat sehingga jumlah yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan udang. Alat ini memberi kepastian bahwa pakan diberikan pada waktu yang tetap dan jumlah yang tepat.

Autofeeder tidak dimaksudkan menggantikan peran manusia. Keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh ketepatan pemberian pakan. Peran manusia tetap diperlukan dalam mengontrol kondisi kesehatan udang, nafsu makan, kualitas air, memastikan pergantian air dilakukan dengan benar, serta membuang kotoran/lumpur yang ada di kolam.

 

Referensi:
FAO. Feeds and Feeding. Shrimp Culture: Pond Design, Operation, and Management.
Molina, C. and M. Espinoza. 2018. Rising Use of Automatic Feeders in Shrimp Ponds Poses New Feed Requirements. Aquaculture Alliance.
Tanver, M., Balasubramanian S., Sivakumar M., Manimehalai N., and Jagan P. 2018. A Technical Review on Feeders in Aquaculture. International Journal of Fisheries and Aquatic Studies. 6 (4): 54-64.
Trobos Aqua. 2017. Plus Minus Autofeeder Udang. Trobos Aqua edisi 65.
Ullman, C., M. Rhodes, T. Hanson, D. Cline, and D.A. Davis. 2019. Effects of Four Different Feeding Techniques on the Pond Culture of Pacific White Shrimp, Litopenaeus vannamei. Journal of World Aquaculture Society. 50 (1): 54-64.