Siphon: Sedot Lumpur Sarang Bahaya

Jala

| Wildan Gayuh Zulfikar

19 June 2020

Lumpur merupakan akumulasi materi organik yang mengendap di dasar tambak. Lumpur berasal dari pakan yang tidak termakan, jasad plankton, dan hasil metabolisme udang. Lumpur yang merupakan akumulasi materi organik menjadi area dengan kondisi anaerob (tidak ada oksigen). Kondisi ini didominasi oleh bakteri pengurai. Jika jumlahnya tidak terkontrol akan menyebabkan tingginya amonia hingga terbentuknya hidrogen sulfida. Keduanya berbahaya bagi udang. Belum lagi jika vibrio tumbuh pesat di lumpur, dapat menyebabkan penyakit. Banyak penelitian menyebutkan, bakteri patogen -salah satunya vibrio- yang berada di saluran pencernaan udang cenderung sama komposisinya dengan bakteri yang ada di lumpur. Hal ini tidak lain karena udang memiliki kebiasaan memakan materi organik di dasar.

Siphon dalam tambak udang adalah teknik penyedotan lumpur di dasar kolam menggunakan selang ke saluran pembuangan memanfaatkan gaya gravitasi dan tekanan air. Siphon juga berguna untuk mengecek adanya kematian dan molting pada udang. Sisa pakan dan bahan organik lainnya diendapkan di tandon pembuangan (IPAL) sebelum dibuang ke perairan. Siphon ini akan menjaga kualitas air dan mencegah terjadinya penyakit. Peran kincir dibutuhkan dalam mengarahkan atau mengumpulkan lumpur ke titik pembuangan (tengah atau pinggir).

Set-up kincir mengarahkan pengendapan lumpur di central drain
Set-up kincir agar mengarahkan endapan lumpur ke central drain

Siphon bisa dilakukan menggunakan pompa atau memanfaatkan gaya gravitasi. Lumpur disedot menggunakan selang yang terhubung dengan saluran pembuangan. Cara kerjanya mirip vacuum cleaner yang menyedot debu dan kotoran di lantai. Selang diarahkan ke area yang terkumpul lumpur. Siphon juga mengeluarkan sejumlah volume air, sehingga perlu adanya input air untuk mengganti air yang terbuang saat proses siphon.

Proses siphon menggunakan pompa
Proses siphon

Banyak tambak di Indonesia membangun tambaknya dengan menempatkan bagian khusus untuk mengumpulkan lumpur. Baik di tengah maupun di pinggir kolam. Umumnya di tengah kolam atau lazim disebut central drain atau disebut juga sebagai shrimp toilet. Area ini dibuat dengan luas 5-7% dari luas kolam. Kedalamannya 0,5-1 meter dengan dibuat melandai.

Ada pendapat bahwa lumpur kolam jangan disedot habis, melainkan disisakan sebagai bioreaktor yang berperan pada siklus hara di kolam. Jika lumpur habis bersih justru akan menyebabkan fluktuasi yang berlebihan pada senyawa nitrogen, misalnya amonia, nitrat, dan nitrit. Jumlah lumpur dikontrol jangan sampai terlalu banyak karena berpotensi menjadi sarang bakteri patogen, misalnya vibrio. Jika lumpur teraduk kembali juga berbahaya bagi udang, sehingga siphon penting untuk dilakukan.

Kita telah tahu manfaat siphon dalam menjaga kualitas air dan kesehatan udang sehingga produktivitas budidaya juga tercapai. Namun ada potensi dampak negatif ke lingkungan. Lumpur yang dibuang adalah limbah budidaya dengan kandungan hara yang tinggi. Kita harus paham ada tanggung jawab untuk mengolahnya dahulu sebelum dibuang ke perairan. Lumpur diendapkan di kolam pengendapan, kemudian diberi perlakuan untuk menurunkan atau mengurai konsentrasi limbah sesuai baku mutu yang ada sebelum akhirnya dibuang ke lingkungan sekitarnya.

 

Referensi:
Khan, M.I.R. 2018. Shrimp Toilet: A Novel Way for Disposal of Organic Waste in Aquaculture Systems. Aqua International.
Taw, N. 2017. Commercial Implementation of Biofloc and RAS Production Systems Help Control Shrimp Farming Diseases. Global Aquaculture Alliance.
Towers, L. 2016. Succesful Production in Semi-biofloc in Indonesia. The Fish Site.