Polikultur Tambak udang

Jala | Wildan Gayuh Zulfikar

11 June 2020

Polikultur adalah budidaya dengan berbagai jenis ikan pada tempat dan waktu yang sama, dalam hal ini kombinasi dengan udang dengan beberapa jenis ikan, kerang atau rumput laut. Penerapannya dengan penempatan udang dan ikan di kolam yang sama. Atau budidaya udang dan ikan di kolam yang berbeda dengan sistem aliran air yang sama, yaitu berpindah dari satu kolam ke kolam lain.

Pemilihan jenis ikan yang akan dikombinasikan dengan udang harus memperhatikan tingkatan trofik di rantai makannya. Hal ini untuk menyeimbangkan perannya di rantai makanan tambak dengan udang yang dijadikan sebagai objek utama budidaya. Udang sebagai organisme yang menghabiskan cukup banyak waktu di dasar memakan materi organik di dasar. Ikan nila atau bandeng akan memakan plankton dan organisme krustasea.

Kemudian petambak harus memperhatikan kisaran kualitas air yang sama antara udang dan ikan yang akan dibudidayakan bersamaan. Udang relatif adaptif dengan salinitas, sedangkan ikan nila misalnya, tidak toleran pada salinitas tinggi maka air budidaya diatur pada salinitas yang tidak terlalu tinggi. Waktu tebar ikan harus memperhatikan ukuran udang sudah cukup besar. Ini untuk menghindari udang dimakan oleh ikan.

Polikultur juga dapat memanfaatkan tumbuhan sebagai salah satu objek budidayanya. Hal ini pernah dilakukan oleh BBPBAP Jepara dengan mengkombinasikan udang dengan rumput laut. Tumbuhan akan memanfaatkan unsur hara hasil metabolisme udang untuk pertumbuhannya. Penyerapan unsur hara tersebut juga akan memperbaiki kualitas air. Tetapi yang harus diperhatikan adalah perlu adanya aerator untuk menyuplai oksigen pada malam hari. DO pada malam hari dapat turun drastis karena udang dan rumput laut justru menggunakan oksigen untuk metabolisme. 

Sistem polikultur ini dapat disebut juga Integrated Multi-Trophic Aquaculture. Masing-masing spesies yang dibudidayakan tidak menempati status yang sama dalam hal level trofik dan preferensi makan. Penggunaan kerang juga pernah dicoba. Kerang dapat dimanfaatkan menguraikan unsur hara yang mengendap di dasar kolam.

Polikultur adalah sistem budidaya yang masih relatif sederhana atau dengan kata lain sistem ekstensif/tradisional dengan sedikit peningkatan prosedur. Budidaya sistem tradisional masih cukup bergantung pada alam, misalnya pakan alami dan kualitas airnya.

Apa keunggulan menerapkan polikultur? 

Polikultur udang dengan ikan dapat menekan kerugian akibat penyakit. Ikan nila yang ditumbuhkan bersama udang tidak akan terserang penyakit karena patogen penyebab penyakit biasanya spesifik baik pada udang atau ikan. Ikan bandeng dan nila berpotensi menjadi spesies yang membersihkan air, terutama meminimalisir penyakit. Ikan nila juga akan memakan udang yang mati. Hal ini akan menghindari kanibalisme udang yang menjadi salah satu penyebab tersebarnya penyakit antar udang. Selain itu, vibrio dan kebanyakan bakteri patogen di tambak adalah bakteri gram negatif. Air pada polikultur cenderung didominasi bakteri gram positif (Yi and Fitzsimmons, 2004).

Keterbatasan modal membuat teknik polikultur menjadi salah satu opsi yang dapat diambil petambak tradisional. Keterbatasan pengetahuan menggunakan teknologi baru untuk budidaya sistem intensif juga dapat diatasi penggunaan sistem polikultur yang relatif mudah. Polikultur dapat menurunkan biaya operasi dan meningkatkan keberlanjutan tambak udang. Biaya operasi tambak dapat ditutup adanya panen ikan, pendapatan dari panen udang akan menghasilkan keuntungan.

Polikultur juga dianggap eko-kultural. Karena cukup ramah lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Berikut alasannya:

  1. Menjaga fungsi ekosistem sekitar yang terdampak
  2. Keseimbangkan antara sumber daya alam dan sumber daya manusia di daerah pesisir
  3. Meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi di pesisir

Tambak intensif bisa polikultur?

Polikultur adalah sistem budidaya dengan intensitas rendah. Polikultur cenderung diterapkan pada padat tebar udang yang rendah (<100 ekor/m2). Kepadatan terlalu tinggi justru akan tidak produktif dan efisien. Meskipun berpotensi turut menjaga kualitas air, polikultur harus diatur terutama pada pemberian pakan. Pada sistem intensif, nila justru akan memonopoli pakan, terutama pakan apung.

Penggunaan ikan bisa juga pada kolam tandon atau kolam pengendapan yang ada di tambak. Begitu pula tumbuhan air. Potensi untuk memperbaiki kualitas air secara alami tanpa penggunaan bahan kimia dan biaya lebih. Selain itu, tentu menjadi lebih ramah lingkungan.

 

Referensi:
Aubin, J., A. Baruthio, R. Mungkung, and J. Lazard. 2015. Environmental Performance of Brackish Water Polyculture System from a Life Cycle Perspective. Aquaculture, Elsevier. 435: 217-237.
FAO. 2012. The State of World Fisheries and Aquaculture 2012. Food and Agriculture Organization of United Nations. Rome.
GAA. 2006. Operating Procedures for Shrimp Farming. Global Aquaculture Alliance.
Susilowati, T., J. Hutabarat, S. Argono, and M. Zaenuri. 2014. The Improvement of the Survival, Growth,  and Production of Vannamei Shrimp (Litopenaeus vannamei) and Seaweed (Gracilaria verucosa) Based on Polyculture Cultivation. IJMARCC. 1 (1): 6-10.
Yi, Y. and K. Fitzsimmons. 2004. Tilapia-Shrimp Polyculture in Thailand. International Symposium on Tilapia in Aquaculture.