Persiapan Antar Siklus Budidaya

Jala | Wildan Gayuh Zulfikar

24 September 2020

Siklus budidaya udang berakhir dengan dilakukannya panen. Budidaya yang telah usai akan meninggalkan sejumlah pekerjaan rumah bagi petambak. Kotoran yang tertinggal di dasar atau dinding kolam dan sering kali meninggalkan kerusakan pada beberapa fasilitas kolam. Jeda setelah dilakukannya panen hingga siklus berikutnya adalah waktu untuk membereskan kotoran yang tertinggal dan kerusakan yang terjadi.

Proses persiapan antar siklus budidaya ini akan menetralisir keadaan kolam. Kolam dengan keadaan netral akan mempermudah perlakuan (treatment) yang akan diberikan seperti sterilisasi air, pembentukan plankton, dan pemberian probiotik. Peralatan budidaya juga bisa dipastikan berfungsi normal. Persiapan antar siklus ini akan semakin krusial ketika siklus sebelumnya terdeteksi adanya penyakit.

Proses persiapan pada tambak yang terkena penyakit harus lebih teliti. Bibit penyakit yang ukurannya sangat kecil bisa saja masih tertinggal di setiap sudut kolam. Penggunaan desinfektan mungkin diperlukan, bahkan dengan dosis yang lebih tinggi. Pada beberapa jenis penyakit yang ganas seperti EMS, persiapan untuk siklus budidaya berikutnya bisa ditambah dengan melakukan budidaya selingan berupa ikan. Berikut Kabar Udang memberikan tips persiapan antar siklus.

Tips persiapan antar siklus

Pembersihan lumpur

Lumpur merupakan akumulasi materi organik dari pakan yang tidak termakan, jasad plankton, dan hasil pencernaan udang. Lumpur menjadi area dengan kondisi anaerob dan didominasi oleh bakteri pengurai. Jika jumlahnya tidak terkontrol dapat menyebabkan masalah pada budidaya. Lumpur ini harus dikeluarkan dari kolam.

Pembersihan dasar dan dinding kolam

Tambak udang dengan sistem budidaya intensif dasar dan dinding kolam umumnya dilapisi plastik atau dicor. Bakteri atau virus sangat mungkin tertinggal pada permukaan lapisan bahkan pada pori-pori dasar atau dinding kolam. Perlu dilakukan pembersihan dengan menyemprot desinfektan kemudian dasar dan dinding kolam disikat dan terakhir dibilas dengan menyemprotkan air.

Pengecekan fasilitas kolam

Peralatan kolam seperti kincir, anco dan jembatan anco, serta peralatan penunjang lain dicek untuk memastikan berfungsi dengan normal. Peralatan tersebut juga dibersihkan dari kotoran yang menempel. Pada proses ini juga bisa dilakukan pengecekan kemungkinan terjadi kebocoran pada kolam. Beberapa konstruksi kolam seperti central drain, saluran inlet maupun outlet, kemiringan dasar, sudut-sudut kolam, maupun lekukan plastik pelapis dinding/dasar kolam juga dilakukan pengecekan. Pengecekan ini sangat penting agar dipastikan semua berfungsi sebagaimana mestinya sehingga tidak akan mengganggu jalannya budidaya yang akan datang.

Pengeringan/penjemuran

Setelah dilakukan pembersihan dari kotoran yang menempel, baik kolam dan peralatannya dikeringkan dengan dijemur di bawah terik matahari. Bertujuan untuk mematikan hama dan penyakit melalui proses penjemuran tersebut.

Pengisian dan persiapan air siklus baru

Setelah memastikan semua sarana kolam budidaya siap, dilanjutkan pada pengisian air. Air yang dimasukkan sebaiknya telah melalui proses pengendapan di kolam tandon atau telah melalui kolam biofilter. Hal ini untuk meminimalisir adanya materi organik dan senyawa organik terbawa kemudian mengendap di kolam budidaya. Kemudian lakukan sterilisasi menggunakan klorin untuk mematikan bibit penyakit. Bisa juga digunakan saponin untuk mematikan bibit ikan predator yang mungkin tidak sengaja terbawa. Persiapan terakhir yaitu menumbuhkan plankton. Plankton berperan sebagai komponen ekosistem dari kolam budidaya yang akan mengatur beberapa kondisi seperti oksigen terlarut (DO), pH, dan konsentrasi senyawa nitrogen. Selain itu juga menjadi makanan alami bagi benur udang pada awal masa budidaya.