Pemilihan dan Survei Lokasi

Jala

| Wildan Gayuh Zulfikar

17 October 2019

Memulai budidaya udang adalah dengan membuat kolam tambak udang dan fasilitas pendukungnya diawali dengan pemilihan lokasi, pembuatan desain kolam, survei lokasi, dan konstruksi tambak. Langkah paling pertama yakni pemilihan dan survei lokasi dibangunnya tambak udang. Pemilihan lokasi yang tepat akan mengurangi biaya saat konstruksi hingga saat operasional budidaya.

Lokasi calon tambak dipilih pada lokasi yang layak dibangun sebuah tambak maupun selama operasionalnya. Tambak yang dibangun juga nantinya meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan baik ke lingkungan alam maupun sosial. Kemudian dalam teknis operasionalnya harus memudahkan dan meminimalisir resiko dalam jalannya budidaya. Secara garis besar dalam pemilihan lokasi dapat mengikuti prinsip berikut:

  1. suplai air yang cukup dan cocok untuk budidaya,
  2. menghindari daerah yang kualitas airnya fluktuatif,
  3. kesesuaian dengan lingkungan alam dan sosial,
  4. meminimalisir akibat negatif ke habitat alami sekitarnya,
  5. menghindari konflik dengan sesama petambak maupun masyarakat sekitar,
  6. keberlanjutan budidaya untuk jangka waktu yang lama,
  7. terintegrasi dengan komunitas lokal.

Setelah mempertimbangkan prinsip-prinsip tersebut kemudian juga terdapat beberapa persyaratan dalam memilih lokasi tambak. Persyaratan tersebut dapat dijadikan sebagai daftar periksa atau check list yang semuanya dipenuhi dalam merencanakan dan memilih lokasi yang akan digunakan sebagai lokasi budidaya udang. Persyaratan lokasi yang akan digunakan sebagai tambak udang menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia nomor 75 adalah sebagai berikut:

  1. terletak di daerah pantai dengan fluktuasi air pasang surut 2-3 meter,
  2. terhindar dari banjir rutin,
  3. jenis tanah bertekstur lumpur liat atau lumpur berpasir dengan kandungan pasir kurang dari 20%,
  4. mempunyai sumber air tawar dengan kapasitas cukup besar,
  5. jauh dari limbah pencemaran terutama limbah beracun dan berbahaya,
  6. lokasi sebaiknya berjarak 50-150 meter dari garis bibir pantai,
  7. mempertimbangkan fungsi konservasi dan meminimalisir gangguan terhadap lingkungan sekitar,
  8. tersedia prasarana transportasi dan komunikasi yang memadai,
  9. lokasi harus memiliki green belt sebagai daerah penyangga berupa hutan bakau.

Tambak dibangun disarankan berada pada bagian belakang green belt (zona penyangga) berupa hutan bakau dengan lebar minimal 200 meter dari bibir pantai. Tujuannya adalah melindungi tambak dari erosi, abrasi, dan tiupan angin kencang yang akan mengganggu fasilitas pendukung tambak.

Selain itu terdapat juga persyaratan non-teknis:

  1. dekat dengan hatchery, setidaknya 3-6 jam jauhnya,
  2. dekat dengan sumber tenaga kerja,
  3. dekat dengan pusat perekonomian,
  4. dapat dijangkau oleh sumber listrik dan alat komunikasi.

Dalam pemilihan lokasi juga diperlukan untuk dilakukannya survei lokasi. Survei ini bertujuan untuk mengetahui keadaan sebenarnya di lokasi yang dimaksud. Kesesuaian persyaratan lokasi dengan keadaan sebenarnya akan mengkonfirmasi dan meyakinkan bahwa tambak yang akan dibangun nantinya akan menjadi budidaya yang sukses dan menguntungkan semua pihak. Proses pemilihan dan survei lokasi ini adalah tahap yang perlu dipertimbangkan meskipun bukan suatu ketetapan yang kaku atau mengikat untuk semua wilayah karena pemilik tambak atau pemilik modal memiliki pertimbangan tersendiri.

 

Referensi:
Amri, K. dan I. Kanna. 2008. Budi Daya Udang Vaname Secara Intensif, Semi Intensif, dan Tradisional. Gramedia: Jakarta
PHILMINAQ. 2008. Better Practice Guidline (BPGs) for Marine Pen and Cage Farmes for Responsible and Sustainable Porduction. PHILMINAQ 6th Framework Progamme.