Panen Parsial yang Aman

Jala

| Wildan Gayuh Zulfikar

9 April 2020

Pada strategi budidaya udang vaname dikenal panen parsial. Panen parsial berarti memanen atau mengambil sebagian udang dari tambak. Setidaknya ada dua pertimbangan dilakukannya panen parsial, yaitu untuk meningkatkan produktivitas dan perhitungan ekonomis.

Dalam hal meningkatkan produktivitas, panen parsial memungkinkan panen akhir didapatkan size udang yang besar. Panen parsial memberikan kesempatan pada udang yang tersisa di kolam tumbuh lebih besar. Alasannya, dengan mengurangi biomasa udang di tambak sehingga daya dukung tambak membaik atau tidak berlebih. Setelah panen parsial dilakukan biasanya udang tumbuh lebih cepat. Selain itu dengan mengurangi kepadatan udang di kolam dapat menurunkan resiko terkena penyakit.

Kemudian dalam hal perhitungan ekonomis. Udang ukuran besar di akhir budidaya tentu mendapat harga yang lebih baik. Sehingga kemungkinan akan memperoleh keuntungan lebih dapat tercapai. Selain itu, bagi petambak yang memiliki modal terbatas panen parsial adalah strategi untuk kelangsungan biaya budidaya berikutnya.

Keuntungan lainnya, berkurangnya biomasa udang di tambak memberikan konsekuensi input pakan yang diberikan berkurang. Kandungan limbah seperti amonia yang dihasilkan akhir periode budidaya dapat diminimalisir. Berdasarkan hasil penelitian dari Romadhona dkk (2015) yang menyimpulkan bahwa panen parsial dapat meminimalisir sumbangan beban cemaran ke lingkungan dan memberikan keuntungan usaha lebih besar. Setelah panen diasumsikan ruang gerak udang semakin luas, oksigen terlarut (DO) lebih baik, amonia turun dan lebih stabil karena pakan turun dan limbah dari udang juga turun.

Perhatikan beberapa hal berikut saat memutuskan melakukan panen parsial

Faktor keberlanjutan harus diperhatikan. Panen parsial berarti budidaya harus terus berlanjut. Maka penting memperhatikan beberapa hal dan kondisi.

Air tambak saat panen panen tidak seluruhnya dikeringkan atau sama sekali tidak dikurangi untuk menghindari udang stres. Panen parsial menggunakan alat tangkap pasif berupa jala lempar. Sehingga tidak perlu mengurangi volume air kolam. Pada panen parsial juga relatif tidak memerlukan banyak tenaga permanen, dengan ini dapat meminimalisir biaya panen.

Panen parsial dilakukan 1-3 kali dengan jarak antar panen 7-14 hari. Jumlah udang yang diambil 20-30% dari estimasi biomasa udang di kolam. Jumlah udang yang dipanen yaitu dengan mengurangi perkiraan biomasa udang yang masih bisa ditampung dalam dua minggu kedepan.

Panen parsial pertama biasanya dilakukan saat mencapai berat udang 10-13 gram per ekor atau saat udang mencapai size 100. Pertimbangannya adalah pada size tersebut udang dikatakan memiliki nilai jual yang cukup baik. Semakin besar udang semakin tinggi harganya.

Dua hal yang tidak kalah penting. Memastikan udang sedang kondisi sehat dan nafsu makan udang sedang baik. Penting agar udang yang tersisa tidak akan stres dan terganggu di kemudian hari. Meskipun pada kasus lain, panen parsial adalah salah satu solusi pada nafsu makan udang yang menurun dikarenakan air sudah jenuh. Tapi pada kasus udang yang terganggu kesehatannya keputusan panen parsial justru dapat memperburuk keadaan.

Panen parsial harus dilakukan dengan metode yang paling cepat. Metode yang lebih cepat akan mengurangi stres dan menghindari penurunan kualitas daging udang. Selain itu juga tetap memperhatikan kolam yang dipanen tidak 'terusik'. Maka dibutuhkan metode yang cepat dan aman, berikut Jala memberikan tipsnya.

Tips panen parsial yang aman

  1. Pastikan peralatan panen sudah dibersihkan dahulu, jika perlu disterilkan terutama jala lempar. Pembersihan juga sebaiknya dilakukan setiap berpindah kolam apalagi berpindah tambak. Tujuannya agar tidak menularkan penyakit yang mungkin saja terbawa melalui jala tersebut.
  2. Beberapa hari sebelum panen diberi pakan berkualitas dengan tambahan vitamin, mineral, dan imunostimulan. Beberapa petambak menambah mineral khusus untuk mencegah udang moulting sesaat sebelum dipanen atau menjaga tubuh udang lebih padat dan keras sehingga kualitasnya lebih baik.
  3. Mematikan kincir di sekitar lokasi penjalaan (1-2 kincir).
  4. Tanpa mengurangi volume air kolam agar menghindari stres.
  5. Panen dilakukan saat suhu rendah atau sinar matahari tidak terlalu terik.
  6. Memastikan dasar kolam di lokasi penjalaan bersih dari endapan lumpur. Tujuannya menghindari endapan tersebut terangkat/teraduk. Dilakukan pengecekan sebelum panen dilakukan dengan turun langsung atau dengan dilakukan siphon.
  7. Maksimal udang yang diambil 30% dari populasi udang yang ada di tambak. Jika terlalu tinggi dapat mengguncang kondisi tambak.
  8. Panen parsial dilakukan secepat mungkin. Jika panen dilakukan pada lebih dari satu kolam, maka selesaikan satu kolam kemudian dilanjutkan ke kolam berikutnya.
  9. Memastikan tidak ada udang yang jatuh kembali ke kolam saat dilakukan penjalaan.
  10. Melakukan siphon sehari setelah dilakukannya panen parsial. Tujuannya membuang udang yang mati karena proses pemanenan.

Selamat panen!

 

Referensi:
FAO. Harvesting. Manual on Pond Culture of Penaeid Shrimp.
Romadhona, B., B. Yulianto, dan Sudarno. 2015. Fluktuasi Kandungan Amonia dan Beban Cemaran Lingkungan Tambak Udang Vaname Intensif dengan Teknik Panen Parsial dan Panen Total. Jurnal Saintek Perikanan vol. 11 no. 2: 84-93.
Run Yu and P. Leung. 2006. Optimal Partial Harvesting Schedule for Aquaculture Operations. Marine Resource Economics vol. 21 pp: 301-315.
Suprapto. 2010. Panen Parsial Maksimalkan Keuntungan. Majalah Agrina.