Panen: Masa Penentuan Budidaya

Jala | Bambang Prakoso

7 May 2021

Dalam budidaya, panen adalah saat yang paling ditunggu oleh para petambak udang dengan berbagai ekspresi, bisa jadi bahagia, antusias, maupun cemas. Mengapa demikian?

Panen merupakan proses pengambilan udang budidaya dalam kolam atas kehendak petambak yang dilakukan sendiri maupun bekerja sama dengan bakul udang atau yang biasa disebut supplier. Panen pertanda berakhirnya masa budidaya. Panen juga dapat dijadikan sebagai evaluasi kinerja penerapan SOP budidaya, sehingga hasil panen di siklus selanjutnya akan lebih baik.

Untuk petambak yang telah menerapkan sistem budidaya kepadatan tinggi, biasanya akan melakukan panen secara berkala (parsial). Panen parsial biasa dimulai ketika udang memiliki estimasi size 100 (berat udang 10 gram) dan akan dipanen kembali setelah 7-14 hari. Metode ini memiliki beberapa keuntungan, yakni dapat mengendalikan biomassa udang tidak melebihi daya dukung budidaya, dan memberikan peluang udang hidup dan tumbuh lebih besar sehingga keuntungan yang diperoleh maksimal ketimbang hanya dilakukan panen pada akhir siklus. 

Panen juga dapat terjadi secara tiba-tiba. Hal tersebut tidak terlepas dari pengaruh perubahan cuaca yang ekstrem dan serangan penyakit yang mengakibatkan udang terpaksa harus dipanen segera untuk meminimalisir kerugian. 

Sebelum dilakukan panen, ada beberapa hal yang diperhatikan petambak, antara lain:

  1. Cek anco dan sampling untuk memastikan estimasi size, bobot, dan kualitas udang yang akan dipanen.
  2. Petambak perlu mencari tahu perkembangan harga udang di daerahnya, guna memaksimalkan keuntungan yang akan diperoleh.
  3. Petambak perlu tahu mekanisme pemanenan dan pembayaran dari supplier, agar tidak terjadi kesalahpahaman ketika proses panen tiba.

Rangkaian proses panen

1. Penangkapan

Merupakan tahap awal dari proses panen, dimana udang ditangkap dari kolam dan dipindahkan menuju ke area proses panen. Pada tahap ini, tim panen akan menggunakan berbagai alat tangkap, seperti jaring yang jumlahnya disesuaikan dengan jenis panen maupun ukuran kolam. 

2. Pencucian & Penirisan

Proses ini dilakukan saat udang sampai di area pemrosesan. Udang dimasukkan kedalam keranjang, kemudian dicuci menggunakan air mengalir dan ditiriskan. Hal tersebut bertujuan untuk membersihkan udang dari kotoran seperti lumpur dan lumut yang ada di kolam budidaya yang dapat menurunkan kualitas udang saat pengiriman nanti. 

3. Sortir

Udang yang telah dicuci dan ditiriskan dinaikkan ke meja sortir untuk dilakukan pengelompokan udang berdasarkan kualitasnya. Terdapat 3 tingkat kualitas udang panen, yakni fresh, kulit muda (KM), dan below standard (BS). 

Udang berkualitas fresh dicirikan dengan memiliki bagian tubuh yang lengkap, warna yang segar dan cangkang yang keras. Untuk udang berkualitas KM cenderung memiliki ciri bagian tubuh yang kadang tidak lengkap dan cangkang yang lembek meskipun warna udang yang segar. Udang berkualitas BS memiliki ciri anggota tubuh tidak lengkap, warna cangkang yang berwarna merah, dan berbau.

Udang yang telah disortir dimasukkan kedalam keranjang, dimana udang kualitas KM dan BS disatukan kedalam satu keranjang, dan udang kualitas fresh dimasukkan ke keranjang yang berbeda dan ditiriskan kembali.

4. Sampling & Timbang

Kedua tahap ini adalah tahap yang krusial yang melibatkan petambak dan supplier karena berkaitan dengan hasil dari siklus budidaya yang sudah dilakukan. Sampling dilakukan untuk menentukan besar size udang saat itu, sedangkan penimbangan bertujuan untuk mengetahui berat tonase udang yang dipanen. Metode kedua tahap ini disesuaikan dengan kesepakatan antara petambak dan supplier.

Kualitas fresh dan memiliki nilai ekspor adalah idaman petambak. Udang hasil budidayanya akan mendapat harga terbaik dan tentunya menjadi bagian dari pahlawan devisa negara karena udangnya akan diekspor. Mencapai kualitas fresh dan berkualitas ekspor juga bukan hal yang tidak mungkin, meskipun butuh usaha serius dari petambak. Bagaimana caranya? Simak edisi Kabar Udang berikutnya.