Panen dan Menjaga Kualitas Udang: Berikut Tipsnya!

Jala | Wildan Gayuh Zulfikar

30 April 2020

Panen adalah proses yang cepat, dapat dilakukan dalam beberapa jam tetapi dapat berpengaruh pada hasil 3 bulan proses budidaya. Kualitas udang menjadi yang paling dipengaruhi. Proses panen yang baik menghasilkan kualitas udang yang baik. Petambak memutuskan panen setidaknya telah memiliki dua pertimbangan, yaitu pertimbangan teknis dan pertimbangan bisnis. 

Keputusan teknis, diantaranya udang yang telah mencapai bobot optimal (size 30-100) dan kondisi udang yang prima. Namun kadangkala nasib buruk juga menghampiri. Kualitas air mengkhawatirkan dan dapat mengancam kesehatan udang. Atau bahkan udang terkena penyakit yang mengharuskannya dilakukan panen total. Menahan budidaya dengan maksud mengobati udang atau memperbaiki kualitas air pada kondisi tertentu justru mengakibatkan kematian udang semakin tinggi. Artinya jalannya budidaya tidak sesuai rencana.

Keputusan bisnis, diantaranya adanya permintaan pasar dan harga jual udang. Size udang yang marketable atau telah memiliki harga jual yang baik biasanya dimulai dari size 100. Pada size tersebut juga dianggap petambak telah memperoleh untung. Namun seringkali petambak meningkatkannya hingga size yang lebih baik misalnya hingga size 30. Semakin besar udang, semakin mahal harganya. Tapi pertimbangan ini sebaiknya dibarengi dengan perhitungan ongkos produksi. Semakin lama budidaya semakin besar ongkos produksinya. Perhitungan diperlukan untuk memastikan telah sampai pada titik 'untung' optimal.

Keputusan panen telah digenggam, selanjutnya melakukan persiapan personel tenaga dan alat panen. Memastikan alat yang digunakan bersih, sebelum dan sesudah digunakan untuk panen. Terutama jika panen dilakukan pada kolam yang terdapat kasus penyakit. Maka personel dan alat harus dipastikan bersih setelah panen selesai untuk menghindari penyebaran penyakit ke kolam yang lain.

Berikut Jala memberikan beberapa tips dan informasi yang sebaiknya Anda ketahui dalam melakukan panen total. Meliputi persiapan sebelum dilakukan panen hingga panen dilakukan

Menghindari udang molting saat panen

Udang yang molting akan mengurangi harga. Molting ini juga sebagai proses alami dari pertumbuhan udang tetapi juga sebagai respon stres. Namun dapat diatasi terjadi saat panen dilakukan. Misalnya dengan aplikasi kaptan dan semen putih 400-500 kg/ha. Atau dengan pemberian dolomit yang dapat mengeraskan kulit (karapas) udang. Selain itu, dapat dilakukan dengan menaikkan pH air sehingga udang tidak molting. Berbagai aplikasi diberikan sebelum panen dilakukan. Sebelum panen sebaiknya juga dilakukan sampling dengan memastikan <5% udang molting dan <10% udang kulit lunak. Menghindari udang menjadi stres saat panen juga solusi udang molting.

Tetap memberi pakan sebelum panen dilakukan

Pakan tetap diberikan setidaknya hingga sehari sebelum panen. Penghentian pakan sebelum panen justru akan mempengaruhi kualitas udang karena tidak akan berhenti makan. Meskipun pakan pelet tidak diberikan, udang akan tetap mencari makan dari dasar kolam. Hal ini justru akan menyebabkan hepatopankreas membesar dan meberikan warna hitam pada kepala udang (cephalothorax). Hal inilah yang dapat menurunkan kualitas udang dilihat dari penampilannya yang kurang menarik.

Panen saat suhu rendah

Waktu terbaik untuk panen adalah malam hari saat bulan baru/mati. Alasannya untuk menghindari udang molting dan menyebabkan kulit lunak pada udang sehingga dapat menurunkan harga. Prinsip dasarnya adalah saat suhu relatif rendah. Sama halnya dengan panen parsial. Suhu lingkungan tinggi dapat menyebabkan metabolisme udang tinggi dan dapat stres bahkan mati lebih cepat.

Panen secepat mungkin

Kecepatan adalah salah satu kunci efisiensi panen. Demi menjaga kualitas udang maka panen harus dilakukan secepat mungkin. Idealnya panen dilakukan dalam durasi 3 jam. Kecepatan ini dapat dipengaruhi oleh metode dan alat yang digunakan.

Pertama, panen dengan jaring tarik. Metode ini yang umum digunakan. Mengurangi air adalah salah satu tahap pentingnya. Air dikurangi disesuaikan total biomassa udang yang ada kemudian memastikan tidak membuat udang stres. Air yang masih terlalu tinggi saat panen dapat memperlama durasi panen. Hal ini dapat menjadi faktor udang stres dan mengalami molting massal.

 Panen menggunakan jaring tarik

Kedua, menggunakan bagnet atau jaring kantong yang diletakkan di pintu air. Jaring ini akan menangkap udang yang keluar mengikuti arus air yang keluar melalui pintu air. Metode ini mungkin cukup jarang digunakan. Penggunaan pintu panen dapat menjadi alternatif panen yang lebih efisien, karena dapat menghemat waktu dan tenaga.

 Jaring kantong di pintu panen

Panen menggunakan jaring kantong

Dua metode diatas membutuhkan desain dasar kolam yang cukup berbeda. Desain kolam menjadi salah satu faktor panen akan menjadi lebih efisien. Misalnya dengan adanya basin atau cekungan di dasar kolam yang akan memerangkap udang, baik di tengah kolam maupun di sisi kolam.

Panen harus diupayakan dilakukan efisien. Persiapan personel dan peralatan panen yang matang juga akan membantu panen berjalan dengan lancar dan singkat. Durasi yang singkat akan menjaga kuaitas udang baik. Kualitas udang yang baik akan mendapat harga yang lebih baik. Maka dari itu panen merupakan proses yang cepat tapi jika dilakukan sembarangan dapat menyia-nyiakan berbulan-bulan proses budidaya.

 

Referensi:
Fast, A.W. and L.J. Lester. 2013. Marine Shrimp Culture: Principle and Practices. Elsevier: Amsterdam.
FAO. Harvesting. Manual on Pond Culture of Penaeid Shrimp.
Herve Lucien-Brun. 2016. Critical Decision for Shrimp Harvesting and Packaging, Part 1. Global Aquaculture Alliance.
WWF-Indonesia. 2014. BMP Budidaya Udang Vannamei.