Mengganti Air, Meningkatkan Kualitas Air

Jala

| Wildan Gayuh Zulfikar

9 January 2020

Pergantian air adalah salah satu metode dalam mengatasi permasalahan kualitas air. Prinsip pergantian air yaitu mengganti kualitas air yang jelek dengan air baru yang kualitasnya lebih baik. Tingkat pergantian air tergantung pada umur pemeliharaan, kepadatan tebar udang, biomasa udang yang ada di dalam tambak, kekeruhan air tambak, dan ketersediaan air tandon.

Kenapa pergantian air diperlukan?

  1. Mengatur suhu air
  2. Mencegah kenaikan salinitas pada musim kemarau
  3. Meningkatkan konsentrasi DO
  4. Membuang kelebihan fitoplankton
  5. Mengurangi konsentrasi nutrien
  6. Menurunkan konsentrasi amonia, nitrat, atau nitrit
  7. Membuang sisa metabolisme
  8. Mengganti kehilangan air karena penguapan atau kebocoran

Pergantian air tidak boleh sampai merubah variabel kualitas air terlalu mencolok. Misalnya pergantian salinitas hingga 5 ppt atau pergantian pH hingga 0,5. Volume pergantian air juga diperhatikan, karena dikhawatirkan terjadi perubahan komposisi dan kematian massal fitoplankton sehingga ekosistem tambak tidak stabil. 

Kapan pergantian air perlu dilakukan?

  • Ketika terjadi perbedaan pH air harian lebih besar (>0,5), atau di luar batas yang ditentukan
  • Air menjadi jernih (kecerahan >80 cm) atau menjadi lebih keruh (kecerahan <30 cm)
  • Jumlah bahan organik terlarut tinggi
  • Munculnya busa di permukaan air tambak yang juga merupakan indikator tingginya timbunan bahan organik

Metode yang paling disarankan adalah menambah air baru terlebih dahulu kemudian dihomogenkan dengan kincir kemudian dilakukan pembuangan air. Air yang dibuang adalah di bagian bawah atau dasar kolam, selain itu busa yang menjebak kotoran juga harus dibuang. Pembuangan air dasar diperlukan untuk meningkatkan efektivitas pergantian air. Sebelum memasukkan air ke tambak harus dilakukan pengukuran kualitas air (pH, DO, salinitas, suhu), sehingga air yang masuk adalah air dengan kualitas air yang baik. Volume air pergantian yang disarankan yaitu 10%, atau pada tambak dengan konsentrasi amonia yang tinggi memerlukan pergantian air 25-50% dari volume air di tambak. 

Pergantian air disarankan sedikit demi sedikit (bertahap) untuk mengatisipasi udang mengalami stres dan kematian massal plankton. Peran kincir diperlukan dalam menghindari stratifikasi variabel kualitas air saat pergantian air dilakukan. Ketersediaan air sangat menentukan kelancaran pergantian air. Kepadatan tebar yang tinggi sangat penting untuk menyediakan air yang cukup di tandon maupun ketersediaan air dari sumur atau sumber air lainnya. 

Pada budidaya dengan sistem intensif, pergantian air adalah salah satu rutinitas yang dilakukan dalam manajemen kualitas air. Tetapi tantangan kedepan yang akan dihadapi adalah penurunan kualitas sumber daya air dikarenakan eksploitasi sumber air dan rendahnya kesadaran mengolah limbah hasil budidaya. Maka pelaku budidaya udang harus mulai berkompromi dengan keadaan tersebut agar tidak terlalu bergantung sumber air langsung dari alam. Salah satunya dengan mengolah air budidaya dengan teknologi yang lebih maju. Banyak metode dikembangkan yang meminimalisir ketergantungan air sumber, misalnya metode bioflok atau metode closed system (sistem tertutup). 

Closed system memiliki sisi positif dalam mengatasi masuknya penyakit ke tambak dari proses pergantian air. Dibandingkan dengan melakukan klorinasi (sterilisasi) air di tandon ataupun di kolam budidaya. Klorinasi bertujuan untuk membunuh pathogen dan kariernya, tetapi juga berbahaya jika berlebihan yang akan mencemari lingkungan. Pada sistem ini, penambahan hanya diperlukan untuk menggantikan air yang menguap dari proses evaporasi. Sehingga sistem ini juga dinilai lebih ramah lingkungan.

 

Referensi:
Boyd, C. E., and C. S. Tucker. 1998. Pond Aquaculture Water Quality Management. Springer Science+Business Media. New York.
Ghufran, M. dan H. Kordi K. 2009. Budi Daya Perairan, Buku Kedua. Citra Aditya Bakti.
Supono. 2017. Teknologi Produksi Udang. Plantaxia. Yogyakarta.
Suryanto, S. R. dan E. P. T. Takarani. 2009. Panduan Budi Daya Udang Windu. Penebar Swadaya. Jakarta.