Mengenal Dua Trik Manajemen Pakan: Blind Feeding dan Puasa

Jala | Wildan Gayuh Zulfikar

13 May 2020

Budidaya sistem intensif, seperti yang banyak dilakukan saat ini mengandalkan pakan buatan (pelet) sebagai sumber makanan bagi udang. Setiap pabrik pakan telah menyertai panduan program pemberian pakan melalui tabel pakan. Terdapat dua trik dalam program pakan yang berkembang di kalangan petambak. Blind feeding dan puasa. Blind feeding atau pakan buta biasanya sudah masuk dalam program 30 hari pertama pemberian pakan, tapi apakah sebenarnya pakan buta itu? Kemudian dikenal trik pemuasaan. Puasa atau perlakuan pemuasaan udang adalah menghentikan sementara pemberian pakan.

Pakan Buta

Pakan buta atau blind feeding adalah kegiatan pemberian pakan dengan tidak memperhatikan program pakan dan penerapannya tergantung ketersediaan pakan alami di kolam. Pada 25-30 hari pertama pasca benur ditebar, pakan kebanyakan menjadi pupuk untuk air dan sisanya sebagai pakan udang. Pada fase awal juvenil, udang lebih memilih pakan alami. Pakan buta juga bertujuan memperkenalkan benur pada pakan buatan dan mengantisipasi berkurangnya atau habisnya pakan alami. 

Pemberian pakan pada 30 hari pertama budidaya ini berdasarkan jumlah benur, estimasi atau target penurunan nilai sintasan udang (SR), kenaikan bobot udang (MBW), dan target rasio pakan (FR) serta kecukupan pakan alami. Jika pada umur 30 hari target tidak tercapai maka evaluasi harus dilakukan berdasarkan kondisi anco.

Udang Juga Berpuasa

Pemuasaan adalah salah satu teknik dalam manajemen pemberian pakan pada budidaya udang. Puasa dilakukan dengan berbagai cara yang intinya menghentikan sementara atau sekedar mengurangi pakan pada waktu tertentu. Misalnya pada malam hari (setelah matahari terbenam hingga matahari terbit) pakan sama sekali tidak diberikan, atau dalam sehari pakan hanya diberikan pada sore hari saja dengan persentase 40% dari total pakan harian. Teknik ini dilakukan secara berulang dengan frekuensi dua kali dalam seminggu atau dilakukan tiap dua hari sekali. Ada juga yang menghentikan pemberian pakan dan akan diberikan lagi setelah ada tanda-tanda naiknya nafsu makan udang ditandai dengan habisnya pakan kontrol di anco.

Teknik perlakuan puasa ini sangat bervariasi karena dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan dari petambak. Jadi sebaiknya petambak mengerti betul alasan dan cara penerapan pemuasaan ini. Puasa akan menurunkan laju metabolisme udang dan akumulasi sisa pakan. Teknik pemuasaan ini bisa dilakukan secara periodik atau berulang pada selang waktu tertentu. Beberapa efek yang dimaksud dari pemuasaan adalah merangsang pertumbuhan dan pengurangan materi organik di kolam.

Penurunan laju metabolisme dilakukan dengan udang akan mengalami penurunan konsumsi makanan tanpa berpengaruh pada hasil akhir budidaya. Udang yang diberi perlakuan pemuasaan mengalami hiperfagia. Nafsu makan udang meningkat setelah dilakukan puasa 2-3 hari. Peningkatan konsumsi pakan akan memenuhi kekurangan nutrisi dan kebutuhan metabolik setelah puasa sehingga merangsang pertumbuhan. Syaratnya kualitas air di kisaran ideal, terutama pH. Keuntungan lainnya yaitu akan meningkatkan kualitas otot dan total protein plasma pada udang. Secara tidak langsung dengan dilakukannya pemuasaan juga dapat menghemat penggunaan pakan, sehingga menurunkan biaya produksi tanpa mempengaruhi produktivitas budidaya. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Prihutomo dkk (2018) dengan performa budidaya yang ditampilkan pada tabel berikut.

Performa produksi tambak dengan pemuasaan pakan

Kemudian puasa dapat menstimulasi pembersihan materi organik di dasar kolam dan unsur hara (terutama N dan P) yang ada di air oleh mikrobia. Hasilnya dasar kolam menjadi bersih dan kualitas air lebih baik. Selain itu, dengan adanya penurunan laju metabolisme juga dapat berefek pada pengurangan tingkat pencemaran air dengan berkurangnya ekskresi amonia.

Teknik pemuasaan sebagai upaya memperbaiki kualitas air perlu diperhatikan tanpa mengorbankan pertumbuhan dan kesehatan udang. Udang bisa dilatih kapan harus makan, tapi pastikan pakan selalu tercukupi misalnya adanya pakan alami berupa plankton sehingga pertumbuhan tidak terhambat atau bahkan tidak terjadi kanibalisme yang akan menurunkan nilai sintasan udang (SR). Hal penting lain adalah kualitas air berada pada kisaran ideal sehingga udang tidak perlu menggunakan energi berlebih untuk menyesuaikan dengan lingkungannya yaitu air.

 

Referensi:
KKP. 2011. Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei). Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan.
Mansyur, A., H.S. Suwoyo, dan Rachmansyah. 2011. Pengaruh Pengurangan Ransum Pakan Secara Periodik TErhadap Pertumbuhan, Sintasan, dan Produksi Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Pola Semi-Intensif di Tambak. J. Ris. Akuakultur 6 (1): 71-80.
Prihutomo, A., A. Triana K., Herinto, R.L. Dongoran, dan M. Nerdin. 2018. Pengaruh Pemuasaan Pada Pemeliharaan Udang Vanamei (Litopenaeus vannamei, Boone) Terhadap Performa Produksi dan Kualitas Air. Buletin Produksi Perikanan Budidaya. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya Karawang.
Supono.2017. Teknologi Produksi Udang. Plantaxia: Yogyakarta.
Thong, P.Y. 2014. Feed Management Improves Profits In Intensive White Shrimp Farming. Global Aquaculture Advocate.
Utomo, W.D., R.R. Hakim, dan G.A. Sutarjo. 2019. Effect of Periodic Fasting on Growth and Feed Efficiency in Giant Freshwater Prawn (Macrobrachium rosenbergii, de Man 1879). IJOTA 2 (2): 53-58.