Meminimalisir Air Budidaya

Jala

| Wildan Gayuh Zulfikar

20 February 2020

Budidaya adalah andalan suplai udang di dunia saat ini karena udang di lautan sudah over eksploitasi. Cara budidaya yang tidak berkelanjutan bahkan cenderung destruktif terhadap lingkungan adalah masalah berikutnya yang kita hadapi saat ini. Produksi udang yang tinggi artinya juga menghasilkan limbah yang banyak. Budidaya udang membutuhkan suplai air yang besar dikarenakan tingginya laju pergantian air tiap siklusnya. Air yang dibuang melalui proses pergantian ini juga membawa sejumlah limbah.

Budidaya udang dengan sistem intensif hingga supra-intensif saat ini telah mulai sadar bahwa bisa meminimalisir pergantian air. Pergantian air memang salah satu cara untuk manajemen kualitas air, yaitu mengganti air yang kualitasnya mulai menurun dengan memasukkan air dengan kualitas yang lebih baik. Pada dasarnya air yang ada dapat diolah agar selama budidaya tetap bisa digunakan bahkan untuk masa budidaya berikutnya. Sistem ini disebut sebagai budidaya tertutup dan semi tertutup karena minim atau sama sekali tidak ada pergantian air. 

Tertutup bisa berarti dari sirkulasi airnya, diputar pada beberapa kolam agar tidak bergantung suplai air dari alam. Caranya dengan menyiapkan beberapa kolam perlakuan sebelum dan sesudah masuk kolam budidaya. Prinsipnya adalah mengendalikan limbah organik berupa kotoran udang dan sisa pakan. Kemudian menciptakan lingkungan homogen baik vertikal maupun horisontal. Sistem tertutup harus mengandalkan probiotik secara penuh untuk mempertahankan kualitas air agar tetap baik. Pemantauan rutin dilakukan pada parameter kualitas air (suhu, pH, DO, salinitas, senyawa nitrogen, parameter mikrobiologi) dan performa pertumbuhan udang (SR, ABW, ADG, FCR, biomassa).

Beberapa contoh metode yang berkembang dalam meminimalisir pergantian air dan tidak tergantung kualitas air sumber diantaranya Zero Water Discharge (ZWD), Recirculation Aquaculture System (RAS), dan bioflok. Berikut perbedaannya dengan sistem intensif atau semiintensif yang umumnya diadopsi oleh kebanyakan petambak di Indonesia.

Perbedaan Sistem Intensif dengan Sistem Tertutup

Pada sistem RAS, 95-99% air di kolam budidaya dapat digunakan kembali setelah melalui resirkulasi. Resirkulasi meliputi proses sedimentasi dan penyaringan yang bertujuan untuk mengontrol akumulasi suspensi solid. Air dibersihkan melalui serangkaian mekanisme fisik dan kimia termasuk proses bakteriologi untuk menurunkan konsentrasi beberapa parameter air yang berlebihan. Air yang telah dibersihkan kemudian dikembalikan lagi ke kolam budidaya. Sehingga pergantian air sangat kecil jumlahnya. 

Berbagai mekanisme yang dikembangkan umumnya meminimalisir senyawa beracun yang berlebihan, baik menggunakan konsorsium bakteri, biofilter, penyaringan mekanis, dan lain-lain. Yang terpenting kemudian menjaga dominansi bakteri atau plankton menguntungkan yang hadir pada kolam budidaya sehingga peran pentingnya tetap dimanfaatkan dalam jalannya budidaya meskipun menjaga dominansinya dengan penambahan secara reguler.

Pelengkapnya dengan dikembangkan secara indoor atau di dalam ruangan, sehingga beberapa faktor dapat dikontrol untuk kenyamanan udang. Menekan patogen (bakteri maupun virus) juga menjadi kelebihan ketika sistem tertutup ini diadopsi. Biosekuriti pada sistem tertutup lebih terjamin apalagi dengan kolam indoor. Peran fitoplankton juga menjadi minimal dalam mempengaruhi dinamika kualitas air. 

Minimal pergantian air mungkin dapat menjadi pendekatan perlahan menuju sistem tertutup, dengan melakukan pergantian air saat hanya terjadi kehilangan karena penguapan atau kolam yang bocor dan mengganti air yang hilang lewat central drain. Manfaat lain dapat meminimalisir pembuangan limbah ke alam terutama limbah cair. 

Sistem tertutup berarti metode budidaya yang lebih terkontrol dan akan membantu dalam mitigasi risiko dan keterlacakan pada jalannya budidaya. Sistem ini membantu dalam mitigasi dan menyiapkan standar yang lebih baik dalam berbudidaya. Melalui budidaya yang serba terkontrol menghasilkan produk yang lebih baik, mendapatkan harga jual yang lebih tinggi, sehingga mendapat reputasi yang lebih baik. Dalam 5-10 tahun mendatang akan menjadi sangat berkembang dan diperlukan. 

Kendala utama yang mungkin dihadapi adalah kebutuhan modal yang besar. Perlu komitmen yang besar setelah meningkatkan kesadaran. Kesadaran seperti ini yang justru akan mendukung keberlanjutan budidaya lebih lama karena diprediksi kedepan sumber daya air sebagai inti dari budidaya udang akan semakin sulit. Tantangan lain adalah keperluan untuk skill dan pemahaman untuk menjalankan sistemnya.

 

Referensi:
Atjo, H. 2019. Progres Inovasi Budidaya Udang Supra Intensif dan Pengembangan RAS dalam Upaya Keberlanjutan. SCI Sulawesi.
Boopathy, R and C. Lyles. 2008. Shrimp Production and Biological Treatment of Shrimp Wastewater in the United States. New Horizon in Biotechnology. Pp: 235-252
Bregnballe, J. 2015. A Guide to Recirculation Aquaculture. FAO-Eurofish.
Gibson, D. 2019. Indoor, Closed Shrimp Farms Could be set to Take Over Asia Within 5-10 Years. Undercurrent News, December 2019.
Poulain, M. 2017. Zero Water Exchange Super-Intensive Indoor Shrimp Production. Vetfish Magazine, August 2017.
Suantika, G. M.L. Situmorang, P. Adiawati, D.I. Astuti, F.F.N Azizah, and H. Muhammad. 2018. Closed Aquaculture System: Zero Water Discharge for Shrimp and Prawn Farming in Indonesia. Biological Resources of Water. Intech Open. Pp: 297-327.
Subyakto, S., D. Suterde, M. Afandi, dan Sofiati. 2009. Budidaya Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Semiintensif Dengan Metode Sirkulasi Tertutup Untuk Menghindari Serangan Virus. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. 1 (2): 121-127.