Mangrove dan Tambak Udang

Jala

| Wildan Gayuh Zulfikar

5 March 2020

Salah satu sisi buruk tambak udang selain berpotensi mencemari lingkungan, yaitu merusak ekosistem pesisir berupa hutan mangrove. Indonesia sebagai negara dengan luas hutan mangrove terbesar di dunia —23% dari total mangrove dunia ada di Indonesia— juga memiiki laju kehilangan hutan mangrove tertinggi di dunia. Total hilangnya hutan mangrove di Indonesia menurut Ilman et al. (2016) dari 1991 hingga 2012 adalah 570.800 hektar. Jasa dari hutan mangrove sering disepelekan oleh kita semua.

Lalu, apa saja fungsi dan manfaat hutan mangrove?

  1. Menjadi tempat mencari makan dan berkembang biak bagi kehidupan laut
  2. Habitat bagi banyak hewan
  3. Menjaga pesisir dari badai, banjir, dan abrasi
  4. Membantu kita beradaptasi pada efek perubahan iklim
  5. Siklus hara, terutama limbah organik dari daratan
  6. Menyerap senyawa berbahaya, misalnya logam berat
  7. Penyimpan CO2, bahkan lebih tinggi daripada hutan tropis
  8. Memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena banyak sumber makanan yang dapat diambil dari hutan mangrove

Hilangnya hutan mangrove berarti hilangnya fungsi daya dukung ekologi yang juga dapat mengganggu keberlanjutan budidaya kedepannya. Bagi tambak udang, mangrove juga berfungsi sebagai penyangga di area pembesaran udang. Jika ditanam pada sistem pengeluaran (oulet) dapat berperan pada siklus hara sehingga sebagai salah satu upaya perlakuan limbah budidaya sebelum dibuang ke alam. Efek dari rusaknya hutan mangrove tidak hanya dirasakan bagi petambak, tetapi juga dirasakan lebih besar bagi masyarakat sekitar. Terutama daerah yang mayoritas sebagai nelayan atau mencari nafkah langsung dari alam.

Kenyataannya, saat ini hutan mangrove banyak tergusur untuk dialih fungsi lahannya menjadi tambak udang dan lahan pertanian. Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri nomor 75 tahun 2016 telah mengatur bahwa tidak diperbolehkan membangun tambak baru pada lahan mangrove dan zona inti kawasan konservasi. Atau dengan menempatkan zona akuakultur di belakang zona intertidal. Alternatif lain, tambak dengan teknologi sederhana (tradisional) dapat dilakukan melalui tumpang sari pada lokasi hutan mangrove atau disebut juga silvofishery.

Saat ini laju hilangnya hutan mangrove mulai menurun, sebagai tanda adanya upaya perlindungan konservasi hutan mangrove dan masyarakat mulai tumbuh kesadarannya akan pentingnya keberadaan hutan mangrove. Mangrove sudah jelas mendukung keberlanjutan tambak udang, dan harus berlaku sebaliknya tambak udang harus mendukung keberlanjutan hutan mangrove.

Kesadaran akan lingkungan ini juga sampai hingga konsumen. Konsumen saat ini mulai sadar, terutama konsumen dari negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa akan produk yang organik. Artinya konsumen akan membeli dan memakan makanan organik yang lebih sehat, ramah lingkungan, dan mendorong perikanan yang lebih baik. Produk dengan label organik tidak segan akan dihargai lebih dibandingkan tanpa label organik.

 

Referensi:
Agrawal, N., C. Bonino, A. Deligny, L. El Borr, C. Festa, M. Ghislain, K. Homolova, A.K. Velasquez, I. Lurtev, A.O. Pinto, V. Viroot, J. Serban-Penhoat, and M. Thomas. 2019. Getting the Shrimp’s Share: Mangroves Deforestation and Shrimp Consumption, Assessment and Alternatives. IDDRI-Sciences Po.
Ashton, E.C. 2008. Review: The Impact of Shrimp Farming on Mangrove Ecosystem. CAB Reviews: Perspective in Agriculture, Veterinary Science, Nutrition, and Natural Resources. 3 (3).
Ilman, M. P. Dargusch, P. Dart, and Onrizal. 2016. A Historical Analysis of the Driver of Loss and Degradation of Indonesia’s Mangroves. Land Use Policy. Pp: 448-459.
Mia Signs. Want to Save the Mangroves? Eat Organic Shrimp
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI nomer 75 tahun 2016 tentang Pedoman Umum Pembesaran Udang Windu (Penaeus monodon) dan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei).
Turcios, A.E. and J. Papenbrook. 2014. Sustainable Treatment of Aquaculture Effluents – What Can We Learn from the Past for the Future? Sustainability. 6:836-856. ISSN: 2071-1050.