Langkah Sukses Budidaya, Catat Datanya

Jala | Wildan Gayuh Zulfikar

7 October 2020

Sebuah tambak udang beroperasi dengan berbagai aktivitas rutin. Pada budidaya sistem intensif, pakan diberikan setiap hari. Kualitas air dipantau secara harian seperti kecerahan, suhu air, pH, oksigen terlarut (DO), salinitas, dan lain sebagainya. Secara mingguan biasanya ditambah dengan mengukur beberapa senyawa kimia serta populasi plankton dan bakteri vibrio ke laboratorium. Semua dilakukan untuk memastikan air pada kondisi ideal bagi pertumbuhan udang dan terhindar dari penyakit. Dalam memastikan pertumbuhan udang juga dilakukan sampling setidaknya seminggu sekali. Untuk mengontrol tetap dalam kondisi ideal biasanya petambak akan melakukan berbagai perlakuan/treatment, apalagi ketika terjadi penyakit atau perubahan kondisi kualitas air.

Jumlah pakan, kualitas air, pertumbuhan udang, dan treatment adalah sebuah data berharga dalam budidaya.

Data-data tersebut jika dirangkai menjadi informasi penting. Peran adanya pencatatan menjadi penting. Data-data terdokumentasi dengan baik sehingga memudahkan dalam mengontrol budidaya secara tepat dan akurat.

Kenapa harus dicatat?

Adanya catatan membuat kita tidak perlu mengingat bagaimana kondisi kemarin dan seperti apa kondisi hari ini. Data terdokumentasi dengan baik dan akan lebih informatif. Catat menggunakan media yang simpel dan efisien. Pada umumnya petambak menggunakan buku atau logbook budidaya. Kini mulai banyak yang menggunakan media digital menggunakan Microsoft Excel atau aplikasi pencatatan lain secara online maupun offline.

Pencatatan manual menggunakan logbook
Pencatatan data budidaya menggunakan logbook
Pencatatan digital menggunakan excel
Pencatatan data budiaya menggunakan Ms. Excel

Adanya catatan juga akan memudahkan saat ingin membandingkan kondisi budidaya antar siklus, antar kolam, hingga antar tambak. Seringkali metode hingga SOP budidaya yang digunakan sama persis menghsilkan panen yang berbeda. Inilah peran data dalam catatan untuk mengidentifikasi letak perbedaannya. Semua menjadi lebih objektif dan terukur. Data-data yang tercatat kemudian menghasilkan sebuah informasi yang menuntun pada kesimpulan kondisi budidaya atau sebagai dasar untuk melakukan sesuatu.

Bagaimana bisa data berupa angka menghasilkan informasi?

Sebuah data yang terdiri dari beberapa angka akan menghasilkan informasi ketika dirangkai. Angka dari hasil pengukuran hari-hari kemarin dirangkai hingga hasil pengukuran terbaru. Selain itu dengan menghubungkan data beberapa parameter yang ternyata memiliki hubungan. Untuk lebih memudahkan lagi dibuat grafik untuk mengetahui kecenderungan pada tiap parameter dalam kondisi baik, menuju penurunan kondisi, atau pada kondisi stabil. Lalu, informasi dari rangkaian data budiaya bisa digunakan untuk apa saja?

Memantau kondisi terkini, dalam kondisi ideal atau dalam masalah?

Budidaya udang ibarat memelihara air. Sebagai tempat hidup udang air dijaga se-ideal mungkin. Setiap parameter kualitas air telah ditetapkan kisaran ideal bagi pertumbuhan udang sehingga perlu menjaganya tetap dalam kisaran ideal. Selain itu juga perlu menjaga stabilitasnya, pada beberapa parameter misalnya pH sangat sensitif jika perubahan pH pagi-sore atau pH harian lebih dari 0,5 bisa membuat udang stress. Perubahan nilai pH inilah yang memerlukan beberapa data yang dirangkai sehingga bisa diketahui stabilitasnya dalam taraf stabil atau tidak.

Memprediksi kemungkinan terjadinya penyakit

Tentu, menggunakan data budidaya bisa memperkirakan kemungkinan terjadinya penyakit. Misalnya penyakit yang disebabkan bakteri vibrio seperti white feces atau berak putih dan kematian massal. Tidak hanya membutuhkan hasil cek laboratorium jumlah populasi bakteri vibrio, kemunculan penyakit juga dilakukan dengan melihat tren populasi dari minggu ke minggu. Selain itu menghubungkan dengan parameter kualitas air yang lain. Jumlah vibrio mungkin tinggi tetapi saat kualitas air lain relatif stabil udang tidak akan stress dan tidak rentan terkena penyakit. Sebaliknya jika vibrio ternyata masih di bawah ambang batas bahaya tetapi kualitas air berubah-ubah secara drastis justru udang dengan mudah terkena penyakit hingga terjadi kematian.

Membantu dalam mengambil keputusan

Saat kondisi terkini budidaya aman kewajiban petambak adalah menjaganya. Tapi, saat ternyata muncul masalah biasanya petambak melakukan treatment. Misalnya pada kasus yang disebutkan di atas. Populasi vibrio di atas batas normal, maka tindakan yang diambil adalah upaya untuk mengurangi populasi vibrio misalnya dengan melakukan siphon atau pemberian probiotik. Namun jika kasusnya juga diiringi kualitas air yang tidak stabil bisa ditambahkan tindakan lain seperti pergantian air, penambahan kincir, dan lain sebagainya.

Memprediksi produktivitas budidaya 

Produktivitas budidaya diketahui dari hasil panen dan efisiensi pakan yang diberikan. Jumlah pakan dan sampling pertumbuhan udang adalah dua data yang bisa digunakan untuk memantau produktivitas budidaya. Selama budidaya berlangsung pakan yang diberikan berdasarkan program pakan. Pakan dari hari ke hari seharusnya direspon dengan adanya pertumbuhan udang yang diketahui dari proses sampling. Yang diharapkan adalah ukuran udang semakin besar dan nilai konversi pakan (FCR) kecil. Jika terjadi kejanggalan misalnya pakan yang diberikan banyak tetapi udang tumbuh tidak optimal maka harus melihat faktor lain. Nafsu makan dan pertumbuhan udang biasanya ikut dipengaruhi kondisi kualitas air. Hubungan data pakan dan pertumbuhan ini yang harus terus dikontrol untuk memastikan produktivitas di akhir budidaya sesuai target.

Mencatat bisa jadi menjadi pekerjaan yang berat sampai menjadi terbiasa. Jika mencatat data budidaya sudah menjadi rutinitas wajib maka langkah berikutnya terbiasa mencerna data agar memberikan informasi. Dua kebiasaan yang akan sangat membantu memastikan suksesnya budidaya udang. Jadi, jangan sampai lupa catat budidaya Anda ya.