La Nina & Budidaya - Bagaimana Pengaruhnya?

Jala | Bambang Prakoso

8 January 2021

Di berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa bulan terakhir sedang mengalami peningkatan intensitas hujan. Peningkatan intensitas hujan juga berpotensi menyebabkan banjir. Hal tersebut berkaitan dengan fenomena La Nina yang sedang terjadi.

Apakah La Nina dan bagaimana dampaknya terhadap sektor budidaya?

La Nina merupakan dinamika atmosfer dan laut selama 9-12 bulan pada 2-7 tahun sekali karena naiknya air dari laut dalam ke arah timur Ekuator Pasifik yang melebihi kondisi normal, sehingga terjadi pergeseran permukaan air laut yang lebih hangat menuju Barat (Asia Pasifik) lebih besar. Kondisi tersebut menimbulkan angin Timuran berhembus lebih kencang. Fenomena tersebut yang memicu terjadinya hujan dengan intensitas tinggi, termasuk berpotensi disertai petir dan angin kencang.

Terjadinya La Nina juga berpotensi berdampak pada jalannya budidaya. Hujan dengan intensitas tinggi akan membuat suhu air turun 2-3℃, dimana suhu turun 1℃ dapat menurunkan 5-10% konsumsi pakan udang dan metabolisme udang menurun (Baca juga: Pengaruh Suhu Terhadap Udang). Perbedaan suhu permukaan dan dasar air menyebabkan udang akan menuju dasar tambak yang sedang minim O₂ (oksigen) dan mengalami peningkatan amonia dan H₂S (gas asam sulfida) yang berbahaya bagi udang. Salinitas dan pH juga akan menurun, yang dapat mengakibatkan plankton mati yang ditandai pH sore lebih rendah atau sama saat pagi (Baca juga: Plankton: Si Kecil Penentu Kualitas Air Tambak). Turunnya pH juga mampu memicu udang molting, yang membuat udang lebih rentan terserang penyakit (Baca juga: Menjaga Stabilitas pH).

Apa yang bisa dilakukan dalam menghadapi La Nina?

  • Kita perlu meningkatkan aerasi untuk meningkatkan O₂ (oksigen) terlarut atau DO dalam tambak, dan minimalisir perbedaan suhu, salinitas, dan O₂ permukaan dan dasar tambak
  • Kualitas air dan udang perlu dipantau, mengingat air hujan bersifat asam dan berpengaruh pada aktivitas udang
  • Penurunan pH dapat ditekan dengan pemberian kapur di tepi kolam sebanyak 10 kg/100 m² sebelum hujan dan 10-20 kg/1 ha setelah hujan
  • Penggunaan probiotik, sifon dasar tambak, dan pergantian air dapat membantu mengurangi konsentrasi amonia dan H₂S
  • Pengurangan jumlah pakan, terutama setelah hujan sebesar 30-50% membantu mengurangi potensi tingginya bahan organik dan alga hijau di tambak. Penambahan mineral dan vitamin juga perlu guna ketahan tubuh udang meningkat dan mencegah cangkang udang lembek

 

Referensi:
SciJinks. 2020. What is La Nina?
NOAA. 2020. La Nina FAQs.
Retamales, R. 2002. A study of semi-intensive shrimp culture in Ecuador in relation to physical, chemical and biological conditions in production ponds during El Nino and La Nina events (1996 to 1999). Stirling: Institute of Aquaculture University of Stirling.
Maheshaqua. 2020. Aquaculture in Rainy and Flood Season.