Identifikasi Penyakit Cepat dan Akurat

Jala | Wildan Gayuh Zulfikar

23 December 2020

Penyakit masih menjadi penghambat produktivitas budidaya udang. Tidak hanya di Indonesia, terjadi juga di negara-negara produsen udang dunia seperti India, Vietnam, Ekuador, dan China. Sudah tidak ternilai kerugian yang dialami petambak akibat penyakit. Di Indonesia petambak udang mengenal beberapa jenis penyakit yang menyerang udang, seperti EHP, berak putih (white feces), bintik putih (white spot), myo/mio (myonecrosis), dan yang kini sedang hangat diperbincangkan yaitu sindrom kematian dini (AHPND/EMS). Penyakit-penyakit tersebut sebenarnya bisa dicegah dengan dilakukan pemantauan budidaya dan mendeteksi kemungkinan terjadinya penyakit sedini mungkin.

Bagaimana cara mudah mendeteksi penyakit pada udang?

Deteksi penyakit diperlukan sebagai rutinitas petambak. Beberapa penyakit mudah dideteksi secara visual pada udangnya. Misalnya EHP ditandai dengan udang memiliki variasi ukuran atau sering disebut blantik; berak putih atau white feces ditandai dengan munculnya banyak feses udang berwarna putih yang mengambang di air atau ada di anco; bintik putih atau white spot yang ditandai dengan munculnya bintik putih pada karapas/kulit udang; myo/mio ditandai dengan berubahnya warna ekor udang menjadi putih hingga kemerahan; dan yang paling misterius yaitu AHPND ditandai dengan tingginya kematian udang pada awal masa budidaya.

Deteksi penyakit secara visual bisa dilakukan sedini mungkin, tetapi hasil identifikasi bisa saja tidak akurat. Ditambah dengan kondisi udang yang telah menunjukkan tanda-tanda visual terkena penyakit artinya penyakit yang diderita sudah cukup parah. Maka deteksi secara visual justru telah terlambat untuk bisa mengambil keputusan untuk mengatasi penyakit yang terjadi. Saat ini terdapat cara yang menghasilkan identifikasi akurat yaitu menggunakan alat PCR. Sudah banyak laboratorium yang menyediakan fasilitas identifikasi penyakit menggunakan PCR. 

Metode akurat mengidentifikasi penyakit pada udang

Dewasa ini metode identifikasi penyakit dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) mulai dilirik oleh petambak karena memiliki hasil akurat. Diagnosa penyakit dapat diterapkan pada indukan, benur, atau udang yang telah positif terserang penyakit untuk memastikan kembali jenis penyakitnya. Identifikasi bisa dilakukan untuk jenis penyakit yang lebih spesifik dan dilakukan dalam waktu yang singkat. 

Untuk menguji sampel udang menggunakan PCR biasanya sampel harus terlebih dahulu dipersiapkan oleh para petambak untuk kemudian dikirim ke laboratorium untuk dianalisis. Sampel yang digunakan yaitu kaki renang (pleopod), hemolimfa, atau hepatopankreas yang diambil dari benur yang akan ditebar atau udang yang mati karena terinfeksi penyakit dan kemudian dimasukan dalam alkohol 70% selama 24 jam sebelum dikirim. 

PCR kini telah berkembang sangat pesat untuk memfasilitasi identifikasi secara langsung sampel di lapangan secara real time dan dalam waktu yang lebih singkat. Dengan prinsip penggandaan rantai DNA dalam jumlah jutaan kali hanya beberapa jam saja teknologi ini berkontrribusi besar sebagai solusi untuk meningkatkan mutu kualitas benur/indukan dan sebagai langkah dini pencegahan penyakit. Identifikasi kualitas benur/indukan bebas penyakit kurang dari satu hari!

Bawa sampel udang Anda ke LabUdang Jala

LabUdang Jala
LabUdang by Jala

Kini Jala telah membuka layanan baru yaitu LabUdang yang bertempat di kantor perwakilan Jala Tech di Banyuwangi yang berlokasi di jalan Ikan Mas nomor 52, lingkungan Kaliasin, Karangrejo, Banyuwangi. Dengan dibukanya layanan baru Jala Tech berharap dapat membantu para pelaku budidaya udang di Banyuwangi dan sekitarnya. Fasilitas laboratorium ini dibuka untuk memfasilitasi dan memberikan akses yang lebih mudah bagi petambak dalam identifikasi penyakit udang dengan metode deteksi dini menggunakan Pockit PCR. Cepat dan akurat dalam waktu satu hari!