Guyub Bersama Petambak

Jala

| Christine Kombong

28 February 2020

Sejak 2019 Jala telah meluncurkan program Tambak Pintar di beberapa lokasi diantaranya Pacitan, Bumi Dipasena, Bantul, dan yang terbaru yaitu di Banyuwangi. Program Tambak Pintar memiliki visi untuk mempersiapkan petambak menuju digitalisasi 4.0 dengan memfasilitasi pengukuran kualitas air menggunakan alat ukur kualitas air Jala yang berbasis IoT (Internet of thing). Selain itu, Jala juga memperkenalkan digitalisasi manajemen budidaya menggunakan software (web dan aplikasi android) manajemen budidaya yang dikembangkan oleh Jala.

Tambak Pintar juga bertujuan untuk mempererat hubungan di antara petambak dengan membentuk kelompok dan mengadakan kegiatan diskusi dua kali seminggu bersama pembicara-pembicara berpengalaman di budidaya udang. "Jika ingin mengobrol dengan petambak udang di Indonesia kuncinya hanya satu: duduk, ngobrol dan minum kopi" ungkap Kenidas Lukman Taufik dari Sustainable Fisheries Partnership, partner Jala yang bekerja sama merealisasikan program Tambak Pintar di Indonesia.

Inisiasi program Tambak Pintar di Banyuwangi dilaksanakan bersama pokdakan (kelompok pembudidaya ikan) Mina Bangkit Bersama pada tanggal 7 Februari 2020 di desa Karangrejo, Banyuwangi. Pada 21 Februari lalu kegiatan diskusi ringan bersama dengan petambak digelar. Mengusung konsep guyub rukun -dalam bahasa jawa yang berarti kebersamaan- dan menghadirkan pak Nunung Nurhayat Daman dan pak Wisnu yang merupakan teknisi tambak udang dari salah satu perusahaan pakan yang telah memiliki pengalaman dalam budidaya udang hingga ke negeri Jiran. Kegiatan diskusi berjalan dengan lancar dan interaktif.

Diskusi peserta Tambak Pintar Jala di Karangrejo, Banyuwangi

Diskusi yang bertempat di tambak pak Toyib, salah satu anggota Tambak Pintar Karangrejo lalu selama kurang lebih tiga jam berdiskusi dan berbagi motivasi dan pengalaman sebagai teknisi di dunia tambak udang serta berbagi pengetahuan terkait inovasi seperti RAS (Recirculation Aquaculture System) dan ZWD (Zero Water Discharge) dengan keterkaitannya menjaga keseimbangan ekosistem. Disebutkan oleh Pak Nung bahwa air yang langsung dibuang ke lingkungan merupakan air yang "mahal" karena telah diberi perlakuan seperti penambahan mineral dan probiotik selama budidaya dijalankan, oleh karena itu daripada membuang air tersebut langsung ke lingkungan ada baiknya untuk diolah lagi dan digunakan untuk siklus berikutnya. "Air yang tercemar juga dapat merusak lingkungan jika tidak dilakukan treatment terlebih dahulu, oleh karena itu inovasi seperti RAS dan ZWD dapat dijadikan salah satu alternatif yang dapat dicoba" pungkasnya. Beliau juga menjelaskan betapa pentingnya monitoring kualitas air tambak khususnya mengetahui nilai pH secara teratur karena berkaitan dengan kandungan HCO3 dan CO3 dalam air.

Tanggapan petambak anggota Tambak Pintar terkait kegiatan Guyub ini pun dinilai positif sebagai sarana bertukar informasi dan argumen tentang cara-cara budidaya serta berbagi metode terkini dalam berbudidaya sehingga dianggap menambah wawasan. Selain itu melalui kegiatan Guyub juga dapat mempererat persaudaraan tidak hanya di antara anggota namun juga dengan pembicara yang turut hadir. Serta bagi tim Tambak Pintar Jala yang ikut sekaligus mendengarkan pandangan dan berbagai masalah yang kini dihadapi petambak.