Covid-19 Melanda, Budidaya Terus Berjalan dan Respon KKP Bersama Produsen Pakan

Jala

| Christine Kombong

24 April 2020

"Kalau engga budidaya udang lalu saya mau ngapain lagi, mbak?" tukas pak Rohman, salah satu anggota tambak pintar Jala, Karangrejo, Banyuwangi, malam itu melalui telepon. 

Pada akhir Maret hingga awal April lalu kelompok pembudidaya udang dan ikan di Indonesia berada pada situasi yang tidak menguntungkan imbas mewabahnya Covid-19. Harga jual udang mengalami penurunan mencapai Rp 6.000. Belum lagi isu ekspor terhambat, disusul beberapa harga produk pakan naik dan tak lupa juga penyakit udang yang tidak mau kalah dengan Covid-19 semakin membuat petambak kelabakan. Kondisinya mungkin saja berbeda di beberapa lokasi, namun tidak mengherankan jika petambak dibuat geleng-geleng ketika itu. Tidak terbayang bagaimana kondisi sebenarnya yang terjadi di lapangan karena yang selama ini terlihat adalah petambak siang-malam merawat tambak untuk memastikan agar udangnya dapat bertahan sampai bobot yang ideal untuk dipanen. 

Berselang bebererapa minggu kemudian kami menghubungi petambak di daerah Banyuwangi untuk berdiskusi tentang kondisi terkini di lapangan. Beberapa sudah panen terlebih dahulu, ada yang akan panen serta yang lainnya sedang mempersiapkan kolam untuk kembali tebar di akhir April atau awal Mei nanti. Ketika ditanyakan terkait strategi apa yang akan diterapkan pada siklus ini dan selanjutnya, Sunarto menjelaskan bahwa tidak ada strategi istimewa yang akan diterapkan. Semua akan berjalan sama seperti biasanya. Beliau menambahkan, hal ini karena dapat dipastikan bahwa harga udang dapat bertahan dan tidak akan turun terlalu jauh di waktu-waktu ke depan.

Hal yang sama diutarakan oleh Ahmad Toyib, Andi Nova dan Baitur Rahman. Budidaya akan tetap berjalan seperti biasa, tidak ada yang berubah drastis apalagi sampai menunda tebaran untuk siklus selanjutnya "Kalau engga budidaya lalu saya mau ngapain lagi mbak? Jadi penyanyi kan ga bisa." tukas pak Rohman dengan tawa renyah dengan ditemani bunyi kincir dibelakangnya. Untuk sementara petambak ini percaya bahwa harga tidak akan dibiarkan jatuh lagi seperti sebelumnya. Jika ditanya tentang apakah akan menurunkan performa budidaya di masa pandemi ini, mereka serentak menjawab "tidak". Bahkan bagi Sunarto dan Toyib, jumlah tebaran benur akan tetap dipertahankan di angka 150.000 serta fasilitas dan perlakuan akan ditambah untuk mendukung pertumbuhan udang sehingga dapat bertahan hingga bobot besar "Ya kan usaha dulu, mbak. Kami tetap ingin menghasilkan udang kualitas baik yang dapat dikonsumsi masyarakat." Ungkap dua petambak veteran ini. Tidak ingin ketinggalan walaupun masih tergolong "muda" di dunia budidaya udang, Rahman dan Andi Nova pun bertekad untuk mempertahankan performanya di siklus ini.

Hal yang tidak jauh berbeda pun terjadi di Dipasena Lampung menghadapi pandemi. Budidaya tetap dilaksanakan untuk siklus ini, namun menerapkan strategi tebar rendah untuk mensiasati harga pakan yang telah sempat naik di awal April kemarin. Untuk masalah harga jual, Ari Suharsono percaya bahwa pemerintah dalam hal ini KKP mulai berupaya untuk mempertahankan harga agar tetap stabil oleh karena itu ia pun tidak terlalu khawatir untuk beberapa bulan ke depan. 

#dirumahaja

Secara tidak langsung petambak juga ingin menyampaikan "kamu di rumah saja, biar kami yang bekerja" kepada masyarakat dalam situasi ini. Yuk dukung petambak dengan makan udang, karena #makanudangitusehat.

Mendukung tekad petambak untuk tetap berbudidaya di tengah pandemi, pada 21 April lalu Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah melaksanakan rapat koordinasi dengan produsen pakan. Salah satu kesepakatan rapat adalah menunda kenaikan harga pakan. Walaupun waktu penundaan belum dapat dipastikan tetapi hal ini tentu saja merupakan upaya yang baik untuk membantu petambak. Kebijakan ini adalah salah satu bentuk respon KKP akan kondisi sulit yang turut dialami petambak udang di tengah pandemi Covid-19.Disamping itu akan ada pengawasan dan penindakan tegas jika ada pihak yang tidak mematuhi kesepakatan.

Serempak diikuti oleh beberapa produsen pakan dengan mengeluarkan berita edaran penundaan kenaikan harga. Berita ini menjadi berita yang melegakan sekaligus bukti pemerintah memihak pada sektor budidaya. Ditundanya kenaikan harga pakan menjadi salah satu faktor yang meringankan beban petambak, karena pakan adalah komponen terbesar yang mencapai 60-70% dari total ongkos produksi.