Busa di Tambak Udang

Jala

| Wildan Gayuh Zulfikar

6 December 2019

Bagi orang awam mungkin bertanya-tanya kenapa air tambak udang berbusa. Kebanyakan petambak menghendaki air kolamnya memiliki busa, sedikit atau banyaknya relatif tergantung preferensi metode yang digunakan. Busa dapat dijadikan indikator kualitas air tambak.

Busa menjadi tanda adanya aktivitas mikroba di dalam tambak salah satunya dalam proses daur nitrogen (N) yang berasal dari protein pakan dan daur senyawa lainnya. Dalam metode bioflok yang mengandalkan aktivitas bakteri dalam mengatur materi organik di air, busa menjadi indikator proses aktivitas dekomposisi bakteri. Busa di permukaan air kemudian dapat menyerap protein terlarut dan materi organik lain. Busa ini akan memudahkan dalam membuang senyawa organik yang terlarut berupa protein dari pakan dan partikel kecil lainnya dari air. Fitoplankton yang mati atau biasa disebut klekap mudah terperangkap di busa, dan sebaiknya rutin dibuang dari air tambak.

Busa juga dapat dijadikan indikator kualitas air dengan melihat warna dan kekeruhan. Busa menandakan kualitas air yang baik yaitu bersih dan relatif bening warnanya atau tidak terlalu pekat. Warna atau kekeruhan busa terutama dipengaruhi oleh turbiditas air. Turbiditas air dipengaruhi oleh plankton dan materi organik, kemudian menyebabkan kecerahan air tambak rendah atau tinggi. Kecerahan dapat diukur dengan sederhana menggunakan Secchi disk, terbuat dari lempengan besi atau menggunakan tutup ember plastik dengan diameter 20 cm.

Mengukur kecerahan air

Fungsi lain dari adanya busa di permukaan air adalah menurunkan tegangan permukaan. Pentingnya menurunkan tegangan permukaan adalah memudahkan proses difusi udara antara permukaan air dan udara yang efeknya akan meningkatkan kelarutan oksigen (DO) di air.

Setelah mengetahui bahwa busa juga penting dijaga, maka perlu ada upaya untuk menjaga keberadaannya dan tidak boleh berlebihan. Busa diatur dengan adanya kincir, dioperasikan untuk menjaga busa bisa menyebar dan terhindar menumpuk hanya di pojok kolam. Jumlah busa dijaga agar tidak terlalu banyak karena dapat menghalangi sinar matahari ke kedalaman air tambak sehingga proses fotosintesis oleh fitoplankton terganggu.

Jika busa terlalu banyak kemudian sudah mencapai tepian atau pojok kolam menandakan aktivitas mikrobia tinggi dan semakin buruk jika banyak sisa fitoplankton yang mati. Busa yang menangkap fitoplankton mati dan materi organik ini harus segera dibuang agar tidak mempengaruhi kualitas air kolam.

Membuat busa dilakukan dengan menambahkan probiotik ke tambak, tentu dengan jumlah atau dosis yang disarankan oleh produsen probiotik. Beberapa petambak menggunakan saponin untuk membuat busa di tambak, tapi jumlahnya perlu diperhatikan agar tidak meracuni udang mesikpun pada dasarnya saponin beracun bagi ikan tetapi tidak bagi udang.

 

Referensi:
Boyd, C. E., and C. S. Tucker. 1998. Pond Aquaculture Water Quality Management. Springer Science+Business Media. New York.
Supono. 2017. Teknologi Produksi Udang. Plantaxia. Yogyakarta.