Budidaya Salinitas Rendah

Jala | Wildan Gayuh Zulfikar

4 June 2020

Beberapa petambak mengalami kesulitan dalam mendapatkan air laut secara terus menerus untuk budidaya. Lokasi tambak yang terlalu jauh dari pantai menjadi penyebabnya. Akhirnya petambak terpaksa menggunakan air laut hanya pada awal budidaya. Untuk menambah atau mengganti air selama budidaya berlangsung mengandalkan dari sumur bor. Bahkan ada yang hanya bisa mengandalkan air dari sumur bor yang salinitasnya relatif rendah dari awal hingga akhir budidaya.

Ada juga petambak yang memang terbiasa menggunakan air dengan salinitas rendah. Misalnya, saat ini mulai banyak inisiatif membuat tambak yang jauh dari laut. Kekhawatiran budidaya di salinitas rendah adalah udang akan tumbuh lambat dan berakhir pada populasi menurun drastis atau survival rate (SR) yang rendah. Benar! Tapi petambak harus tahu realita sesungguhnya.

Vaname merupakan spesies udang dengan kemampuan hidup di rentang salinitas yang luas, yaitu 0,5-40 ppt atau disebut spesies eurihalin. Lebarnya daya adaptasi ini menjadikan vaname spesies yang sangat cocok dibudidayakan di wilayah yang jauh dari air laut sekalipun. Meskipun idealnya salinitas untuk budidaya udang adalah pada kisaran 15-30 ppt. Pada kondisi tertentu atau memang perencanaan budidaya salinitas rendah tetap dapat menghasilkan panen yang maksimal.

Aklimatisasi, langkah pertama dimulainya budidaya ini sangat penting untuk kondisi salinitas rendah. Benur akan sangat rentan saat penebaran, sehingga aklimatisasi salinitas sangat penting. Benur dari hatchery biasanya dikemas pada salinitas tinggi (25-30 ppt). Jika tambak yang akan ditebar pada salinitas 5-10 ppt maka diperlukan aklimatisasi gradual. Aklimatisasi ini dilakukan perlahan dari salinitas 30 ppt, menjadi 25 ppt, 20 ppt, hingga 5 ppt. Prosesnya bisa dilakukan di wadah terpisah sebelum ditebar ke tambak. Aklimatisasi gradual akan menghasilkan SR lebih tinggi karena mengantisipasi stres dan kematian massal saat penyesuaian pertama setelah benur masuk ke kolam budidaya.

Memperhatikan keseimbangan mineral adalah hal berikutnya yang harus diperhatikan pada budidaya salinitas rendah. Mineral potasium (K), magnesium (Mg) dan kalsium (Ca) menjadi yang diutamakan. Kekurangan ion dari mineral tersebut dapat menghambat pertumbuhan dan menurunkan survival rate (SR). Udang memang tetap dapat hidup pada kondisi salinitas rendah, tapi kehidupannya terganggu dan rentan mengalami stres akibat kekurangan mineral. Potasium (K) dan magnesium (Mg) berfungsi pada metabolisme lipid, protein, dan karbohidrat. Metabolisme yang terganggu menyebabkan udang mengalami gangguan pertumbuhan. Rendahnya SR disebabkan udang yang gagal melakukan adaptasi karena fungsi osmoregulasi yang terganggu. Maka petambak harus memastikan kecukupan mineral di tambak.

Air sumur meskipun salinitasnya tinggi atau sama dengan air laut belum tentu kandungan K dan Mg sama, bahkan bisa lebih rendah. Ion mineral Ca, Mg dan K pada salinitas rendah biasanya cenderung kurang. Petambak harus menambah melalui aplikasi mineral dan selalu memastikan selalu pada level cukup. Petambak dapat menentukan sendiri jenis produk mineral, yang diperhatikan adalah kandungan Ca, Mg, dan K ada di dalamnya.

Fluktuasi salinitas pada awal masa budidaya saat udang masih kecil juga perlu dijaga. Benur udang masih sangat rentan pada perubahan yang terlalu mencolok. Kemudian suhu harus selalu dikontrol tidak terlalu rendah, disarankan pada kisaran 26-32℃. Suhu terlalu rendah pada kondisi salinitas yang rendah dapat menurunkan kemampuan osmoregulasi.

Budidaya udang vaname salinitas rendah tetap berhasil, dengan dua syarat: aklimatisasi dan mineral.

 

Referensi:
Aruna S. and Felix S. 2017. The Effect of Ionic Concentration of Low Saline Waters on Growth Characteristics of Penaeus vannamei. International Journal of Fisheries and Aquatic Studies. 5 (3): 73-76.
Briggs, M., Funge-Smith S., Subasinghe R., and Phillips M. 2004. Introduction and Movement of Penaeus vannamei and Penaeus stylostris in Asia and the Pacific. Food and Agriculture Organization of the United Nations Regional Office for Asia and the Pacific.
Davis, D.A., T.M. Samocha, and C.E. Boyd. 2004. Acclimating Pacific White Shrimp, Litopenaeus vannamei, to Inland, Low-salinity Waters. SRAC Publication no. 2601.
Supono. 207. Teknologi Produksi Udang. Plantaxia. Yogyakarta.