Budidaya Berhasil Bersama

Jala | Christine Kombong

2 April 2020

Apa yang terbayang ketika mendengar petambak sinau (jawa: belajar) bareng? Belajar ditepi kolam tambak? Praktik bersama?

Sinau bersama Jala dalam program tambak pintar dijumpai petambak dengan kopi hitamnya berkumpul dalam semangat kekeluargaan saling berdiskusi untuk menambah ilmu dan memecahkan masalah bersama. Pada 7 Maret lalu bersama dengan Bapak Sukhoiri dari Skretting yang telah memiliki pengalaman cukup banyak di tambak.

Hal yang dibahas bermacam-macam, namun lebih banyak terkait hal-hal dasar yang perlu diperhatikan dalam budidaya udang. Yang pertama terkait penumbuhan fitoplankton, untuk apa sebenarnya penggunaan hasil fermentasi sebelum tebar benur? Penggunaan hasil fermentasi pada tahap persiapan air kolam sebenarnya ditujukan untuk menumbuhkan fitoplankton. Nutrisi tambahan yang diberikan pada air digunakan sebagai sumber pertumbuhan fitoplankton. Fitoplankton ikut menjadi faktor untuk meningkatkan kandungan oksigen dalam air (DO) tambak sebelum benur ditebar.

Tidak hanya itu, fitoplankton juga berguna sebagai pakan alami untuk benur udang selain artemia. Bapak Sukhoiri menjelaskan bahwa petambak dapat dengan bebas memilih menumbuhkan plankton dengan bahan pupuk fermentasi ataukah membiarkan plankton tumbuh dengan sendirinya dalam air kolam. Hal ini karena beberapa jenis fitoplankton dapat tetap tumbuh walau dalam kondisi yang minim selain itu nutrisi yang diperoleh dari pelet pakan pun dapat mendukung pertumbuhan fitoplankton.

Lalu bagaimana cara mengetahui bahwa keragaman fitoplankton di air kolam tinggi? Pak Sukhoiri juga menyampaikan bahwa warna air dapat menjadi salah satu indikatornya. Perlu diperhatikan juga bahwa overfeeding dan pemberian fermentasi yang berlebih dapat menyebabkan blooming fitoplankton. Kelebihan jumlah fitoplankton dapat menurunkan kandungan oksigen dalam air dan mengganggu organisme lain terutama udang. Untuk mencegah hal ini terjadi, maka perlu juga untuk membersihkan kolam dari sisa-sisa pakan di dasar kolam. Beberapa petambak anggota tambak pintar Karangrejo Banyuwangi telah memiliki cara yang tepat untuk membersihkan kolamnya dari kotoran dan sisa-sisa pakan yang dapat mencemari kolam salah satunya dengan membuat konstruksi kolam yang baik.

Konstruksi kolam yang baik adalah kolam yang memiliki saluran pembuangan kotoran ke luar serta memiliki sirkulasi air yang lancar. Salah satunya Bapak Sunarto yang menerapkan konstruksi kolam dengan pembuangan sentral, beliau sendiri memiliki dua kolam lain selain satu kolam produksi yang berfungsi sebagai kolam tandon dan kolam perlakuan. Air dari kolam tandon yang telah diberi perlakuan akan dialirkan terus-menerus menuju kolam produksi, sedangkan pipa pembuangan terhubung ke kolam perlakuan yang berisi ikan sebagai biofilter. "Ketika ingin membersihkan kolam saya tidak akan masuk ke dalam kolam produksi melainkan saya menggunakan tekanan pada pipa pembuangan. Tinggal melepas tutup pipa pembuangan di kolam treatment saja, maka kotoran dari kolam produksi akan terhisap keluar (ke kolam perlakuan)" pungkasnya.

Diskusi berjalan sangat interaktif dan petambak pun berbagi pengalamannya dalam budidaya udang ditambah lagi turut hadir pula laboran dari laboratorium SCI Banyuwangi yang ikut meramaikan diskusi selama kurang lebih tiga jam tersebut.

Masih banyak lagi hal yang dibahas dalam sinau bersama tambak pintar Jala. Dengan berkelompok dan sering berdiskusi dapat mempererat hubungan antar petambak, menambah banyak kenalan, dan saling membantu satu sama lain.