Awalnya Tidak Mengerti, Akhirnya Ketagihan

Jala

| Christine Kombong

30 June 2020

Berbicara soal gender, petambak mungkin masih identik dengan kaum adam. Kegiatan budidaya merupakan hal yang membutuhkan mental baja dan fisik kuat di lapangan, masyarakat menganggap pria dikenal lebih cocok untuk syarat tersebut. Wanita menjadi kaum minoritas yang aktif dalam dunia budidaya udang Indonesia karena berbagai alasan. Salah satunya sering dianggap tidak mampu seperti lelaki. Tambak Pintar JALA mendapati beberapa wanita pegiat budidaya udang seperti salah satunya ibu Luluk, petambak binaan Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, yang kami temui di kota Wali Demak.

Meski tergolong petambak muda yang baru aktif sejak 2017 lalu, ibu tiga anak ini belum kapok berbudidaya. Lulusan Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro ini tidak pernah berpikir akan ketagihan "beternak udang". Sebelumnya usaha yang dimulai oleh almarhum Ayahnya pada tahun 90an ini ditinggalkan selama 5 tahun, bu Luluk kembali melanjutkan budidaya dengan modal seadanya. Tidak memiliki sama sekali dasar dalam budidaya tidak menyurutkan niatnya untuk tetap mencoba dan menekuni bidang ini. "Dua bulan sebelum tebar pertama tahun 2017, hampir semua informasi dari internet tentang budidaya saya baca. Kadang juga diskusi bersama petambak di warung nanya-nanya" ungkapnya. Seminar dari dinas perikanan pun sering diikuti untuk menambah pengetahuan tentang tambak sampai mengikuti pelatihan teknis dengan narasumber dari BBPBAP Jepara, membuka mindset bahwa berbudidaya membutuhkan teknologi, tercatat, dan terukur.

Ibu Luluk aktif sebagai ketua kelompok Tani Ikan dan Udang Pasopati Jaya menjadi hal yang perlu diapresiasi. "Saya lebih prioritas tambak, mbak. InsyaAllah, kalau seneng capeknya kalah, apalagi kalau panennya bagus" tandasnya.

Ibu Luluk, petambak wanita di Demak

Bu Luluk memanen udang budidayanya yang dibina oleh BBPAP Jepara

Walau saat ini anggota kelompok lain belum berani untuk menerapkan sistem semi-intensif ataupun intensif seperti dirinya, bu Luluk berharap jika usahanya telah dilihat berhasil, anggota kelompoknya akan mengikuti langkahnya sehingga memperoleh hasil budidaya yang lebih baik.

Tekad yang tinggi untuk berbudidaya mengantarnya pada keinginan untuk terus meng-upgrade tambak. Terbukti dari semula hanya menjalankan 3 kolam dengan sistem ekstensif/tradisional, sekarang beliau telah mengembangkan lahan tersebut menjadi 2 kolam intensif, 1 kolam semi-intensif dan 1 kolam ekstensif untuk memaksimalkan hasil. Melalui tahapan pembinaan dari BBPBAP Jepara, kegiatan budidaya mulai disiplin dengan menerapkan sistem biosecurity sederhana di tambak seperti menyediakan 3 tandon air, memasang pagar batas pada kolam intensif, memantau kualitas air dua kali sehari dan mencatatnya kemudian melakukan evaluasi serta memberi perlakuan harian. Targetnya dalam tiga tahun ke depan beliau sudah akan memiliki 8 petakan kolam intensif.

Kini program Tambak Pintar dari JALA bekerjasama dengan BBPBAP Jepara. BBPBAP Jepara membina bidang teknis budidaya dan JALA dalam menyiapkan teknologi digital berupa pemantauan kualitas air, manajemen budidaya dan finansial. Ibu Luluk sebagai salah satu bagian dari program kerja sama antara JALA dan BBPBAP Jepara ini ingin terus belajar untuk memaksimalkan hasil tambaknya. Terakhir, beliau juga menyampaikan bahwa perempuan sebenarnya mampu sukses dalam budidaya udang jika berkemauan besar dan budidaya dengan SOP yang sesuai. Siapa yang tahu masa depan? Perempuan juga bisa.

Siapa tahu berikutnya sobat JALA yang akan jadi pioneer seperti bu Luluk di kelompok masing-masing. Semangat belajar, semangat budidaya!