Apakah Menambak Udang Perlu Latar Belakang Perikanan?

Jala | Aken Yugo

11 February 2021

Tidak memiliki latar belakang perikanan dan "hanya" bermodal keyakinan akan peluang budidaya udang yang menjanjikan membawa perjalanan hidup, Kamirudin atau yang akrab disapa "Pak Marudin" ini justru sangat menjiwai budidaya udang yang dianggap sebagai salah satu seni yang mampu membuatnya lupa waktu.

Awalnya menekuni dunia pertanian. Namun, beliau menyadari bahwa bertani memerlukan usaha yang lebih dalam prosesnya. Hal itu karena petani perlu memikirkan cara untuk dapat menghasilkan tanaman/buah yang berkualitas sekaligus memikirkan proses penjualannya demi mendapatkan harga jual yang sesuai. Berbeda dengan proses budidaya udang yang lebih berfokus kepada usaha pembesaran dimana dalam proses penjualannya petambak tidak lagi terlalu khawatir akan harga, karena kebutuhan udang di pasar lokal dan dunia masih sangat diminati serta tingkat persaingan diantara para supplier udang cukup kompetitif sehingga harga pasaran yang ditawarkan relatif stabil.

Beliau mulai budidaya udang vaname di tahun 2012 ketika mendapatkan bantuan dari Dinas Perikanan setempat berupa benur sejumlah 150.000 ekor. Sejak saat itu, Pak Kamirudin mulai fokus budidaya udang vaname. Meski begitu, pada masa-masa awalnya beliau lebih banyak bergelut dengan berbagai macam masalah budidaya dan belum bisa merasakan hasil yang memuaskan. Hingga akhirnya ketika beliau mendapatkan informasi bahwa budidaya menggunakan kolam terpal lebih menghasilkan, ia mulai berinisiatif membuat kolam terpal versinya sendiri. Bermodalkan sisa sak (bungkus/karung) pakan sebanyak 1200 lembar, beliau mulai menjahitnya secara manual hingga berhasil membuat beliau menjadi orang pertama di lingkungannya yang melakukan budidaya udang vaname di kolam terpal.

Kamirudin, Petambak udang di Banyuwangi

"Alhamdulillah, waktu itu hasil yang saya terima cukup bagus, setelahnya lalu beli terpal sendiri karena sak pakan yang dipakai satu siklus saja sudah rusak parah". Kenang Pak Kamirudin mengingat masa masa perjuangannya waktu itu.

Selama menjadi petambak, beliau pernah membesarkan udang hingga size 28 dengan DOC (Day of Culture) mencapai 115 hari yang menghasilkan keuntungan cukup besar. Meski begitu, Pak Marudin merasa lebih senang ketika beliau berhasil menyelesaikan siklus yang bermasalah meski tidak menghasilkan keuntungan yang besar sekalipun. Proses merancang treatment budidaya, menghitung formulasi pemberian pakan, hingga mempelajari strategi budidaya udang di berbagai kondisi musim membuat beliau sering lupa waktu. Menurutnya, budidaya udang seperti seni dimana selalu ada kepuasan tersendiri ketika berhasil memecahkan suatu masalah.

Pak Kamirudin percaya bahwa kualitas air dan kondisi kebersihan kolam merupakan kunci utama yang perlu dijaga. Beliau sering menganalogikan kondisi kolam yang kotor dengan rumah yang kumuh dan kotor.

"Sekarang coba bayangkan saja, seandainya kita tinggal dirumah yang kumuh dan kotor itu gimana gitu to. Jangankan untuk makan, untuk tinggal saja sudah pasti tidak betah". Ujarnya sembari tertawa.

Menurut beliau, saat ini budidaya udang tidak semudah dahulu karena kondisi lingkungan terutama sumberdaya perairannya jauh berbeda jika dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Berbagai macam penyakit mulai bermunculan sudah sangat beragam dan bermacam macam seperti WS (White Spot), IMNV (Infectious Myonecrosis Virus), WFD (White Feces Desease), TSV (Taura Syndrom Virus), EHP (Enterocytozon hepatopenaei), hingga yang terbaru yaitu AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Desease). Meski begitu, Pak Kamirudin yakin bahwa berbekal pengalaman, usaha keras, serta mau beradaptasi dengan perkembangan zaman maka peluang untuk berhasil itu pasti tetap terbuka lebar.

 

Kamirudin,

Kelompok Petambak Udang Mina Bangkit Bersama, Karangrejo, Banyuwangi.