Biosekuriti dan Penyakit

Jala

| Wildan Gayuh Zulfikar

3 October 2019

Budidaya udang yang baik memiliki produktivitas dan nilai keberlanjutannya tinggi. Namun budidaya udang yang baik ini sering terganggu oleh salah satu penghalang besar, yaitu adanya penyakit. Penyakit masih menjadi momok dalam budidaya udang, salah satunya yang paling dikhawatirkan yaitu white spot atau lebih familiar disebut penyakit WS. Begitulah kira-kira ungkap Bapak Dr. Agus Setyawan, S.Pi., M.P. Namun Kabar Udang kali ini bukan khusus untuk membahas penyakit WS, pembaca bisa membaca di artikel sebelumnya (White Spot dan Myo).

Dr. Agus Setyawan sendiri adalah akademisi yang memiliki ketertarikan dengan penyakit pada udang. Salah satunya yaitu meneliti imunostimulan dari ekstrak alga coklat dengan mengujinya terhadap virus penyebab WS yaitu WSSV. Imunostimulan sendiri adalah zat yang dapat memicu daya tahan (imun). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa efeknya positif meningkatkan daya imun udang.

Dr. Agus Setyawan
Dr. Agus Setyawan

 "Penyakit hadir disebabkan dengan 3 faktor utama, yaitu inang, patogen, dan lingkungan" jelas Bapak Agus.

Udang sebagai objek utama dalam budidaya, maka udang adalah inang utama yang perlu dijaga imunitasnya (daya tahan) terhadap patogen. Patogen atau organisme penyebab penyakit dapat berasal dari mikroorganisme yang juga hadir di tambak. "Sehingga tugas utama dalam pencegahan penyakit adalah menjaga jangan sampai atau setidaknya meminimalisir kontak antara udang dengan patogen. Caranya yaitu melalui penerapan biosekuriti" lanjut Bapak Agus.

Biosekuriti adalah upaya mencegah masuk dan tersebarnya patogen dalam budidaya. Upaya ini mulai dari cara memperoleh sumber air, desain kolam, dan manajemen air yang mampu menghilangkan patogen di tambak. Hal-hal penting dalam biosekuriti antara lain sanitasi, mekanisme perpindahan penyakit, perlakuan air, perlakuan terhadap limbah, dan pakan yang bersih.

Sanitasi adalah upaya untuk membersihkan atau desinfeksi semua fasilitas budidaya (kincir, jarring, plastik/HDPE/LDPE, anco, dll). Sanitasi juga termasuk dalam hal menghilangkan suspensi organik yang dapat menjadi sarang patogen. Menghilangkan suspensi dan endapan ini juga dapat meningkatkan efektivitas desinfektan. Suspensi dan endapan berasal dari partikel bahan organik yang mengendap, pakan yang tidak termakan, dan udang yang mati.

Perpindahan penyakit dapat terjadi secara vertikal (diturunkan dari indukan) dan secara horisontal (menular dari udang lain). Kemudian udang yang mati harus diambil dan dimusnahkan dengan dibakar atau dikubur. Udang yang mati karena penyakit masih berpotensi membawa patogen dan menyebarkannya.

Perlakuan air dilakukan pada sebelum masa budidaya mulai atau sebelum penebaran benur, saat budidaya berlangsung, dan pada air sisa budidaya. Air yang digunakan harus melalui proses sterilisasi. Penggunaan desinfektan penting dalam upaya persiapan lahan ketika akan memasuki siklus budidaya baru atau setiap air akan dimasukkan ke dalam kolam budidaya. Tujuannya menghilangkan sisa patogen. Desinfektan tidak menjamin 100% patogen akan hilang, tetapi akan sangat mengurangi jumlahnya. Manajemen kualitas air diperlukan sebagai upaya untuk mengurangi organisme patogenik masuk dan tumbuh di kolam budidaya. 

Bapak Agus menjelaskan bahwa setiap lingkungan ada mikroorganisme yang berpotensi menjadi patogen atau bisa disebut "patogen oportunistik", yaitu 'mereka' selalu ada dan akan menjadi patogenik pada saat yang tepat, misalnya saat lingkungan kurang terjaga stabil. Berikut beberapa tindakan yang dapat diterapkan dalam menjaga kualitas air tetap stabil:

  1. Menjaga parameter fisik dengan meningkatkan aerasi (kincir), mengontrol suhu, meningkatkan efisiensi program pakan, meminimalisir lumpur dan materi organik, dan perlakuan pada air limbah.
  2. Menjaga parameter kimia meliputi menjaga dinamika pH dan salinitas serta menurunkan konsentrasi amonia dan nitrat.
  3. Perlakuan biologi yang efektif menggunakan probiotik yang mengandung campuran bakteri yang menguntungkan.

Beberapa variabel kualitas air perlu dijaga stabilitasnya. "Oksigen (DO) menjadi yang paling berpengaruh, kalau oksigen tidak ada maka udang akan mudah mati sehingga inilah hal utama yang dijaga. Kemudian pH juga harus dijaga, fluktuasinya dijaga tidak terlalu tinggi karena hubungannya dengan konsentrasi amonia di air" lanjut jelas Bapak Agus.

Limbah yang dihasilkan dari budidaya harus dikelola untuk mencegah pelepasan organisme berbahaya ke lingkungan. "Salah satu indikator budidaya yang baik adalah sustainable, yaitu masa penggunaan lahan budidaya bertahan lama. Salah satunya dengan penerapan pengolahan limbah budidaya, misalnya dengan adanya hutan bakau atau aplikasi bakteri bioremediasi. Intinya adalah mengurangi konsentrasi senyawa organik sebagai limbah sebelum benar-benar dibuang ke lingkungan" pendapat Bapak Agus.

Penggunaan pakan yang bersih. Pakan berpotensi terkontaminasi patogen sehingga penting menjamin kebersihannya dan memastikan tetap segar dengan cara menyimpannya dengan benar.

Jika penyakit terjadi di kolam budidaya, maka biosekuriti berfungsi mencegah dari kerugian yang lebih besar dan penyebaran ke kolam lain. Tanda-tanda awal terjadinya penyakit biasanya muncul dengan perubahan perilaku atau kenampakan fisik udang, dan nafsu makan turun. Tanda lain adalah perubahan kualitas air dan populasi mikroorganisme (bakteri) yang berlebihan. Penyakit menyerang udang dan menyebar disebabkan beberapa faktor:

  1. Degradasi atau menurunnya kualitas lingkungan
  2. Rendahnya pengetahuan tentang penyakit
  3. Pemilihan benur yang tidak baik
  4. Transfer atau perpindahan udang (nasional maupun internasional)

Sebagai momok yang paling menakutkan bagi petambak, penyakit dapat menyebabkan kerugian. Maka pencegahannya harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Pencegahan penyakit harus dilakukan secara kolektif, yaitu menjaga kualitas air dan meningkatkan daya tahan udang. Dapat diawali dengan meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan serta konsistensi penerapan biosekuriti.

 

Referensi:
Cuellar-Anjel, J., C. Lara, V. Morales, A.D. Gracia, and O.G. Suarez. 2010. Manual of Best Management Practices for White Shrimp Penaeus vannamei Farming. OIRSA-OSPESCA. New Concept Publication. Panama.
Supono. 2017. Budidaya Udang. Plantaxia. Yogyakarta.
Taw, N. 2010. Biosecurity for Shrimp Farms. Global Aquaculture Advocate 2019.
Turkmen, G. and E. Toksen. 2015. Biosecurity and Major Disease in Shrimp Culture. 606-615.
Yanong, R.P.E. and C. Erlacher-Reid. 2012. Biosecurity in Aquaculture, Part 1: An Overview. SRAC Publication No. 4707