Budidaya Udang Berkelanjutan

Jala

| Wildan Gayuh Zulfikar

12 September 2019

Jala Tech mendapat kesempatan berbincang dengan salah satu praktisi dan akademisi pada budidaya udang, yaitu Bapak Dr. Ir. Supono, M.Si. yang juga merupakan dosen di Program Studi Sumber Daya Wilayah Pesisir Universitas Lampung. Beliau memiliki spesialisasi dalam penelitian probiotik dan bioflok. Bapak Supono juga menulis beberapa buku tentang budidaya udang, salah satunya Teknologi Produksi Udang (2017).

Bapak Dr. Ir. Supono, M.Si.

Bapak Supono banyak melakukan penelitian tentang bioflok. Bioflok merupakan salah satu inovasi dalam budidaya udang yang prinsipnya meningkatkan peran bakteri-bakteri positif (terutama bakteri heterotrof) dengan menambah karbon sehingga dapat menurunkan amoniak dan menjadikannya sebagai sumber protein bagi udang. Namun penerapan bioflok ini perlu pengawasan yang ketat dan terus-menerus untuk mendapat hasil optimal, terutama pengoperasian kincir.

Metode budidaya udang saat ini sebetulnya tidak banyak perubahan secara mendasar. Hanya terdapat inovasi-inovasi yang dilakukan sendiri oleh petambak. Bapak Supono meyakini inovasi diperlukan semata-mata untuk meningkatkan hasil panen dan mencegah terjadi penyakit. Budidaya udang juga tidak lepas dari masuknya inovasi teknologi. "Teknologi sangat penting dalam budidaya, terutama untuk meningkatkan carrying capacity" jelas Bapak Supono. Teknologi minimal yang saat ini sudah luas digunakan adalah kincir.

Perkembangan metode budidaya cenderung berupa inovasi lokal yang dilakukan oleh petambak. Bapak Supono berpendapat bahwa tidak ada yang benar-benar menguasai dan menjamin keberhasilan suatu budidaya. "Yang ada hanyalah meminimalisir resiko pada semua fase budidaya, sehingga tingkat keberhasilan menjadi lebih tinggi" imbuh beliau. Saat ini yang belum menjadi perhatian besar kebanyakan petambak adalah memantau kualitas air, padahal menjadi bagian penting pada budidaya.

Bapak Supono juga menekankan bahwa budidaya udang harus sustainable atau berkelanjutan. Budidaya yang berkelanjutan harus memenuhi 3 hal, yaitu secara ekologi, ekonomi, dan sosial. Keberlanjutan secara ekologi artinya tidak merusak lingkungan sehingga dapat dikatakan sebagai budidaya yang ramah lingkungan. Keberlanjutan secara ekonomi artinya budidaya yang menghasilkan profit atau keuntungan, sehingga selain budidaya dapat terus berjalan tetapi juga ada keuntungan yang didapat. Keberlanjutan sosial meliputi lokasi budidaya yang aman dan tidak mengganggu lingkungan sosial tetapi justru mendatangkan keuntungan bagi sekitarnya.

Sebagai praktisi sekaligus akademisi, Bapak Supono juga aktif dalam organisasi Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) dan saat ini dipercaya sebagai ketua MAI korda Lampung. Beliau aktif turun ke tambak-tambak dan berbagi pengetahuannya kepada petambak. Beliau juga menyelipkan harapan bahwa keberhasilan budidaya di Indonesia bisa terus meningkat, terus berupaya mencegah penyakit dengan menjaga kesehatan udang, dan seraya juga memperhatikan lingkungan.