Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati

Jala

| Wildan Gayuh Zulfikar

9 April 2019

Penyakit adalah hal yang paling merugikan bagi petambak udang vaname. Penyakit menyebabkan kerugian besar terutama jika terjadi kematian massal udang di tambak. Udang yang terjangkit penyakit juga turun harga jualnya di pasar karena biasanya turut menurunkan kualitas udang. Selain itu, udang yang sakit nafsu makannya turun sehingga pakan yang diberikan dapat terbuang sia-sia di kolam. Deteksi penyakit cukup sulit, metode deteksi penyakit umumnya melalui uji laboratorium baik sampel dari sedimen atau sampel udang. Udang yang sudah muncul tanda-tanda penyakit bisa dikatakan sudah terinfeksi cukup serius sehingga sudah terlambat dalam deteksi maupun langkah mengobati.

Apabila udang sudah terjangkit penyakit maka salah satu cara terbaik adalah pemberian antibiotik atau vaksin. Pemberian antibiotik atau vaksin terus menerus akan menyebabkan resistensi patogen terhadap antibiotik atau vaksin yang diberikan dan dikhawatirkan membahayakan lingkungan. Selain itu, antibiotik yang diberikan berlebihan akan menurunkan aktivitas mikrobia di tambak sehingga terjadi akumulasi limbah organik (amonia, nitrit, atau nitrat) di permukaan kolam atau di dasar kolam akibat siklus nutrien yang terganggu. Akhirnya yang terjadi adalah penurunan kualitas air.

Sampai saat ini belum ada cara penyembuhan penyakit yang paling efektif dan ramah lingkungan. Salah satu alternatif terbaik adalah melakukan pencegahan. Kabar Udang memberikan saran beberapa langkah yang dapat dilakukan sebagai pencegahan udang terserang penyakit:

  1. Kontrol kualitas air. Menjaga kualitas air menjadi sangat penting sebagai komponen utama di tambak. Kontrol harian pH, salinitas, DO, dan suhu adalah standar minimum untuk mengetahui keadaan kualitas air saat itu. Dijaga agar tidak terjadi perubahan mendadak, perubahan mendadak akan menyebabkan udang stres. Jika terjadi maka harus segera mengambil langkah agar mengembalikannya ke keadaan normal. Hal terpenting lain adalah menjaga stabilitasnya. Kemudian secara mingguan mengontrol konsentrasi bahan organik (amonia, nitrit, nitrat, mineral, karbonat) serta menghitung total vibrio dan plankton.
  2. Biosecurity. Menjadi bagian penting dalam pengelolaan tambak udang, meliputi pencegahan masuknya patogen dari luar dan memberikan penanganan jika terjadi penyakit di tambak. Biosecurity  mencakup semua tahap pengelolaan tambak upang dari mulai persiapan lahan, persiapan air, penebaran benur, pemeliharaan, penanganan limbah, dan panen.
  3. Pakan berkualitas. Pakan yang diberikan untuk udang harus dijaga kualitas nilai gizi dan terbebas dari kontaminasi penyakit.
  4. Benur yang berkualitas. Benur yang berasal dari hatchery yang terjamin kualitasnya, dibuktikan dengan benur yang mengantongi kategori Specific Pathogen Free (SPF) atau Specific Pathogen Resistant (SPR) (baca: Mengenal Benur SPF dan SPR).
  5. Melakukan sampling pemeriksaan kesehatan (early security warning). Gejala penyakit yang sudah muncul di udang biasanya sudah dalam tahap yang cukup serius. Pemantauan kesehatan sejak dini adalah salah satu langkah terbaik untuk mengantisipasi terjangkitnya udang dari penyakit. Pemantauan ini dapat dilakukan rutin sejak masa-masa awal setelah benur ditebar ke kolam pembesaran. Pemeriksaan kesehatan dengan melakukan uji laboratorium mengambil sampel sedimen, air, dan udang.
  6. Pemberian suplemen. Suplemen tambahan dapat diberikan bersamaan pakan dengan dosis yang terukur (tergantung dengan jenis suplemen) terutama yang mengandung karotenoid, beta karoten, vitamin C, astaxanthin karena terbukti meningkatkan imunitas. Jenis suplemen dapat mengikuti produk dan dosis yang diberikan produsen. Bisa juga melakukan inovasi tambahan pada pakan harian, misalnya pemberian zat ekstrak dari alga (misalnya dari jenis Dunaliella salinaTetraselmis chuiChlorella sp.) atau tumbuhan darat (misalnya ekstrak bawang putih atau daun tumbuhan Gynora bicolor) untuk meningkatkan imunitas udang.
  7. Pemberian probiotik. Penggunaan probiotik akan membantu ekosistem dalam sirkulasi nutrien agar sampah organik tidak menumpuk terutama di sedimen kolam. Selain itu, juga menjaga kestabilan populasi mikrobia di sedimen maupun di organ pencernaan udang. Pemberian probiotik harus memperhatikan dosis yang dianjurkan dan melihat keadaan kualitas air di tambak.